Materi IQ EQ dan SQ
A.
Konsep dan Ragam Kecerdasan
(IQ, EQ, SQ)
1.
Pengertian kecerdasan
Menurut Howard Gardner kecerdasan sebagai suatu
kemampuan yang dimiliki individu yang dapat berkembang secara alami dan dapat
pula dikembangkan melalui pembelajaran dan pengalaman. Ini berarti lingkungan
dapat berperan dalam membantu individu untuk mengembangkan kemampuannya. Adapun
menurut Gottfredson mengemukakan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan mental
yang bersifat umum, yang diantaranya sebagai kemampuan untuk menelaah (to
reason), merencanakan, memecahkan masalah, berpikir anstrak, mengemukakan
ide-ide, belajar cepat dan belajar dari pengalaman.
Maka dapat diambil kesempulan dari pengertian kecerdasan adalah semua
daya atau kemampuan yang dapat berkembang melalui pembelajaran yang melalui
pembelajaran yang terdiri dari delapan aspek kecerdasan yang akan
dibahas di point 2.
2.
Aspek Kecerdasan (klasifikasi
kecerasan)
Terdapat delapan aspek kecerdasan yang dikemukakan oleh
Gardner, yaitu :
a.
Kecerdasan Linguistik
b.
Kecerdasan logika matematis
c.
Kecerdasan spasial
d.
Kecerdasan kinestestis
jasmani
e.
Kecerdasan musikal
f.
Kecerdasan intrapersonal
g.
Kecerdasan interpersonal
h.
Kecerdasan naturalis
3.
Hakekat IQ, EQ,SQ
a.
Hakekat IQ
Orang sering kali menyamakan arti inteligensi
dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat
mendasar. Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak
secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara
efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu
kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena
itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus
disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses
berpikir rasional itu. sedangkan IQ atau singkatan dari Intelligence Quotient,
adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ
hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak
menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Intelligence Quotient atau yang biasa disebut
dengan IQ merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama
kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal
abad ke-20. Kemudian Lewis Ternman dari Universitas Stanford berusaha
membakukan test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma
populasi, sehingga selanjutnya test IQ tersebut dikenal sebagai test
Stanford-Binet. Pada masanya kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan
tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek
kognitif dari setiap masing-masing individu tersebut. Tes Stanford-Binet ini
banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Inti kecerdasan intelektual ialah aktifitas
otak.Otak adalah organ luar biasa dalam diri kita. Beratnya hanya sekitar 1,5
Kg atau kurang lebih 5 % dari total berat badan kita. Namun demikian, benda
kecil ini mengkonsumsi lebih dari 30 persen seluruh cadangan kalori yang
tersimpan di dalam tubuh.Otak memiliki 10 sampai 15 triliun sel saraf dan
masing-masing sel saraf mempunyai ribuan sambungan.Otak satu-satunya organ yang
terus berkembang sepanjang itu terus diaktifkan.Kapasitas memori otak yang
sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5 % dan untuk orang jenius memakainya
5-6 %.Sampai sekarang para ilmuan belum memahami penggunaan sisa memori sekitar
94 %.
Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan
secara metodik oleh IQ (Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk
suksesnya anak dalam belajar.Menurut penyelidikan, IQ atau daya tangkap
seseorang mulai dapat ditentukan sekitar umur 3 tahun.Daya tangkap sangat
dipengaruhi oleh garis keturunan (genetic) yang dibawanya dari keluarga ayah
dan ibu di samping faktor gizi makanan yang cukup.
IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan
berubah sampai seseorang dewasa, kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak
seperti penuaan dan kecelakaan.IQ yang tinggi memudahkan seorang murid belajar
dan memahami berbagai ilmu.Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab
kesulitan belajar pada seorang murid, disamping faktor lain, seperti gangguan
fisik (demam, lemah, sakit-sakitan) dan gangguan emosional. Awal untuk melihat
IQ seorang anak adalah pada saat ia mulai berkata-kata. Ada hubungan langsung
antara kemampuan bahasa si anak dengan IQ-nya. Apabila seorang anak dengan IQ
tinggi masuk sekolah, penguasaan bahasanya akan cepat dan banyak.
Rumus kecerdasan umum, atau IQ yang ditetapkan oleh para
ilmuwan adalah :
Usia
Mental Anak
|
X100 =
IQ
|
Usia
Sesungguhnya
|
Contoh : Misalnya anak pada usia 3 tahun telah punya
kecerdasan anak-anak yang rata-rata baru bisa berbicara seperti itu pada usia 4
tahun. Inilah yang disebut dengan Usia Mental. Berarti IQ si anak adalah 4/3 x
100 = 133.
Interpretasi atau penafsiran dari IQ adalah sebagai berikut
:
TINGKAT
KECERDASAN
|
IQ
|
Genius
|
Di atas
140
|
Sangat
Super
|
120-140
|
Super
|
110-120
|
Normal
|
90-110
|
Bodoh
|
80-90
|
Perbatasan
|
70-80
|
Moron/Dungu
|
50-70
|
Imbecile
|
25-50
|
Idiot
|
0-25
|
b.
Hakekat EQ
EQ adalah istilah baru yang dipopulerkan oleh
Daniel Golleman.Berdasarkan hasil penelitian para neurolog dan psikolog,
Goleman (1995) berkesimpulan bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pikiran,
yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional.Pikiran rasional digerakkan oleh
kemampuan intelektual atau “Intelligence Quotient” (IQ), sedangkan pikiran
emosional digerakkan oleh emosi.
Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional
Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang
hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor
yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama teknis itu ada yang berpendapat
bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang
yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa
mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu
yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.
Kecerdasan emosional dapat diartikan dengan
kemampuan untuk “menjinakkan” emosi dan mengarahkannya ke pada hal-hal yang
lebih positif.Seorang yang mampu mensinergikan potensi intelektual dan potensi
emosionalnya berpeluang menjadi manusia-manusia utama dilihat dari berbagai
segi.
Hubungan antara otak dan emosi mempunyai kaitan
yang sangat erat secara fungsional.Antara satu dengan lainnya saling
menentukan.Otak berfikir harus tumbuh dari wilayah otak emosional.Beberapa
hasil penelitian membuktikan bahwa kecerdasan emosional hanya bisa aktif di
dalam diri yang memiliki kecerdasan intelektual.
Beberapa pengertian EQ yang lain, yaitu :
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk
mengenal emosi diri sendiri, emosi orang lain, memotivasi diri sendiri, dan
mengelola dengan baik emosi pada diri sendiri dalam berhubungan dengan orang
lain (Golleman, 1999). Emosi adalah perasaan yang dialami individu sebagai
reaksi terhadap rangsang yang berasal dari dirinya sendiri maupun dari orang
lain. Emosi tersebut beragam, namun dapat dikelompokkan kedalam kategori emosi
seperti; marah, takut, sedih, gembira, kasih sayang dan takjub (Santrock,
1994).
Manusia dengan EQ yang baik, mampu
menyelesaikan dan bertanggung jawab penuh pada pekerjaan, mudah bersosialisasi,
mampu membuat keputusan yang manusiawi, dan berpegang pada komitmen.Makanya,
orang yang EQ-nya bagus mampu mengerjakan segala sesuatunya dengan lebih baik.
Kecerdasan emosional adalah kemampuan
merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi
sebagai sumber energi, informasi koneksi dan pengaruh yang manusiawi.Dapat
dikatakan bahwa EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber
informasi. Untuk pemilik EQ yang baik, baginya infomasi tidak hanya didapat
lewat panca indra semata, tetapi ada sumber yang lain, dari dalam dirinya
sendiri yakni suara hati. Malahan sumber infomasi yang disebut terakhir akan
menyaring dan memilah informasi yang didapat dari panca indra.
Substansi dari kecerdasan emosional adalah
kemampuan merasakan dan memahami untuk kemudian disikapi secara manusiawi.Orang
yang EQ-nya baik, dapat memahami perasaan orang lain, dapat membaca yang
tersurat dan yang tersirat, dapat menangkap bahasa verbal dan non verbal. Semua
pemahaman tersebut akan menuntunnya agar bersikap sesuai dengan kebutuhan dan
tuntutan lingkungannya Dapat dimengerti kenapa orang yang EQ-nya baik,
sekaligus kehidupan sosialnya juga baik. Tidak lain karena orang tersebut dapat
merespon tuntutan lingkungannya dengan tepat .
Di samping itu, kecerdasan emosional
mengajarkan tentang integritas kejujuran komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan
mental kebijaksanaan dan penguasaan diri. Oleh karena itu EQ mengajarkan
bagaimana manusia bersikap terhadap dirinya (intra personal) seperti self
awamess (percaya diri), self motivation (memotivasi diri), self regulation
(mengatur diri), dan terhadap orang lain (interpersonal) seperti empathy, kemampuan
memahami orang lain dan social skill yang memungkinkan setiap orang dapat
mengelola konflik dengan orang lain secara baik .
Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang
mengendalikan emosinya saat menghadapi situasi yang menyenangkan maupun
menyakitkan.Mantan Presiden Soeharto dan Akbar Tandjung adalah contoh orang
yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, mampu mengendalikan emosinya dalam
berkomunikasi.
Dalam bahasa agama , EQ adalah kepiawaian
menjalin “hablun min al-naas”. Pusat dari EQ adalah “qalbu” .Hati mengaktifkan
nilai-nilai yang paling dalam, mengubah sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu
yang dijalani.Hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh
otak. Hati adalah sumber keberanian dan semangat , integritas dan komitmen.
Hati merupakan sumber energi dan perasaan terdalam yang memberi dorongan untuk
belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani.
c.
Hakekat SQ
SQ adalah potensi anugrah Tuhan yang dimiliki
setiap manusia sejak lahir berbarengan dengan potensi-potensi manusiawi lain
yaitu PQ (physical quotient = kecerdasan ragawi), EQ (emotional quotient =
kecerdasan emosi) dan IQ (intelectual quotient = kecerdasan intelektual). Sejak
ruh ditiupkan ke janin di rahim seorang ibu, pada saat itulah manusia sudah
memiliki potensi SQ yang diberikan Tuhan. Potensi itu akan dibawa terus dalam
kehidupannya.
Namun seperti juga otot, bila potensi ini tidak
dilatih dan diberdayakan, maka SQ pun tidak akan berkembang. SQ juga perlu
asupan yang tepat agar tumbuh dan menjadi kokoh. Asupan SQ adalah firman-firman
Tuhan yang tertulis dalam kitab suci agama-agama. Agama sebenarnya mengajak
manusia agar menjadi cerdas SQ, menjadi mengerti tentang hakekat keberadaannya
dan keberadaan Tuhan dalam hidupnya. Sayangnya banyak manusia yang belajar
agama kemudian berhenti pada pemahaman semata, atau sekadar pada tataran
religiusitas tanpa mencoba menyentuh hakikat-hakikat hidup dan kehidupan.
Hakikat bahwa keberadaannya hanyalah sebagai hamba Tuhan dan tidak bisa lepas
dari kuasa Tuhan barang sedetikpun. Dengan kata lain tanpa mengenal hakikat
Tuhan, hakikat manusia dan bagaimana potensi iman mampu memberdayakan dirinya,
sebenarnya manusia tersebut sedang melupakan atau mengabaikan potensi SQ-nya.
d.
Hakekat EI
EI merupakan kecerdasan menggunakan dan
mengendalikan perasaan sehingga setiap perasaan diekspresikan secara tepat dan
efektif serta dapat bekerja sama dengan orang lain mencapai tujuan. Sebagai
contoh dengan memberdayakan EI, sesorang dapat marah kepada orang yang tepat,
dengan tingkat dan cara marah yang sesuai, pada waktu yang tepat, serta dengan
tujuan yang tepat.
Tidak mau mendengar pendapat orang lain, merasa
benar dan mau menang sendiri, menguasai pembicaraan dalam rapat, pilih kasih,
meluapkan rasa gembira atau sukacita secara berkelebihan, sedih yang
berkepanjangan, menyimpan rasa dendam, dan frustrasi adalah contoh-contoh
lemahnya EI seseorang. Sedangkan EI mencerminkan kemampuan seseorang untuk
berimpati dengan orang lain, menahan amarah atau rasa senang, mengendalikan
dorongan hati, sadar diri, bertahan, berkomunikasi, bergaul, dan bekerja secara
efektif dengan orang lain dalam mencapai tujuan bersama. Bahkan dengan
menunjukkan berbagai contoh yang meyakinkan, Goleman mengatakan EI lebih penting
daripada IQ karena IQ baru dapat bekerja secara efektif apabila seseorang mampu
memfungsikan EI-nya. Orang yang memiliki IQ biasa-biasa saja dapat berhasil
dalam hidupnya karena mampu memanfaatkan EI-nya dengan tepat. Ia dapat menutupi
kelemahannya berpikir dan bernalar dengan berkomunikasi secara lebih baik dan
meyakinkan. Akan tetapi banyak juga orang yang tidak menyadari keberadaan dan
peranaan EI itu, sehingga potensi yang amat berharga itu kurang atau tidak
didayagunakan. Prestasi dan keungulannya dalam berpikr dan bernalar tertutupi
oleh ketidakcakapannya dalam berkomunikasi dan bergaul.
Dalam konteks pendididikan di sekolah, Goleman
menyarankan agar kurikulum serta bahan pelajaran dan proses pembelajaran
hendaknya memberdayakan serta mengembangkan EI setiap siswa sehingga memiliki
kemampuan lebih dalam tanggung jawab, interaksi sosial, pemahaman atas orang
lain, berdemokrasi, hidup harmonis, mengatasi konflik-konflik sosial, percaya
diri, dan pengendalian diri. Masing-masing kemampuan ini dapat dilatih dan
dikembangkan dalam suasana dan kondisi belajar yang kondusif dengan catatn guru
benar-benar memahami unsure-nsur emosi itu serta memberdayakannya secara tepat.
e.
Hakekat AQ
IQ dan EI mengantarkan ke pintu awal sukses
tetapi untuk dapat melanjutkan dan meningkatkannya perlu mengggunakan
kecerdasan lain yang dapat membuat seseorang tetap bertahan, tidak menyerah,
serta berjuang terus meraih keberhasilan demi keberhasilan. Jenis kecerdasan
yang demikian disebutnya dengan Adversity Quotients (AQ) dan dianggap sebagai
faktor yang paling penting dalam meraih sukses.
Dalam kehidupan sehari-hari terlihat orang yang
berhasil dalam pekerjaan kariernya, walaupun banyak hambatan dan tantangan yang
menghambat. Di pihak lain tidak sedikit orang yang gagal dan menyerah kalah
dalam menghadapi masalah-masalah yang menghadang. Perbedaan nasib orang yang
sukses dan orang yang gagal itu terletak pada perbedaan AQ yang dimiliknya. Dr.
Gerald Pepper, Pofesor di bidang komunikasi di Universitas Minnesota,
mengemukakan bahwa AQ adalah ukuran sekaligus falsafah. Sebagai ukuran AQ
menyatukan riset psikologi kognitif,psikoneuroimunologi, dan neurofisiologi
untuk membentuk suatu gambaran lengkap tenang bagaimana cara menghadapi
kesulitan dan mengapa. Sebagai falsafah, AQ menyajikan suatu cara untuk
membingkai kembalai kehidupan manusia. AQ merupakan logika untuk bergerak maju,
menjadikan diri seseoranng lebih daripada sebelumnya dan memegang kendalai ke
mana ia harus pergi.
AQ ini dapat dikembangkan dalam proses
pembelajaran antara lain dengan memberikan masalah-masalah baru kepada siswa
untuk dipecahkan secara individual atau secara beregu.Keceredasan atas dasar
spiritualitas.
Semoga bermanfaat :)
Post a Comment