Header Ads

KONSTRUKTIVISME




Asumsi-Asumsi dan Perspektif-Perspektif
          Kontruktivisme adalah perspektif psikologis dan filosofi yang memandang bahwa masing-masing individu membentuk atau membangun sebagian besar dariapa yang mereka pelajari dan pahami (Bruning et al., 2004).
1.             Asumsi-asumsi
          Asumsi utama dari kontruktivisme adalah, manusia merupakan siswa aktif yang mengembangkan pengetahuan bagi diri mereka sendiri (Geary, 1995). Kontruktivisme menjelaskan bahwa untuk memehami materi dengan baik, siswa harus menemukan .prinsip-prinsip dasar. Maksudnya, fungsi ini seluruhnya bukan berasal dari para pembelajar, akan tetapi mereka meyakini bahwa struktur-struktur mental hadir untuk mencerminkan realita. Para kontruktivis juga berselisih pendapat tentang berapa banyak mereka melihat konstruksi pengetahuan berasal dari interaksi-interaksi sosial dengan guru-guru, teman-teman sebaya,  para orang tua, dan pihak-pihak lainnya (Bredo, 1997).
Meskipun kontruktivisme tampak sebagai paham baru dalam kancah pembelajaran, tapi ini merupakan epistemologi kontruktivisme, dimana kontruktivisme telah memengaruhi toeri dan penelitian tentang pembelajaran dan perkembangn.
          Kontruktivisme juga telah memengaruhi pendidikan dalam bidang pendidikan mengenai kurikulum dan pengajaran. Paham ini melandasi penitikberatan terhadap kurikulum terpadu dimana siswa mempelajari sebuah topik menurut lebih dari satu perspektif.
Asumsi kontruktivisme lainnya adalah guru sebaiknya tidak mengajar dalam artian menyampaikan pelajaran dengan cara tradisional kepada siswa. Guru seharusnya membangun situasi-situasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dengan materi pelajaran melalui pengolahan materi-materi dan interaksi sosial. Aktivitas-aktivitas pembelajaran kontruktivis:
a.              Fenomena-fenomena
b.             Mengumpulkan data-data
c.              Merumuskan dan menguji hipotesis-hipotesis, dan
d.             Bekerja sama dengan orang lain.
Tabel 6.1
Perspektif-perspektif tentang Kontruktivisme
Perspektif
Dasar Pikiran
Eksogenus
Penguasaan pengetahuan mempresentasikan sebuah kontruksi ulang dari dunia luar. Dunia memengaruhi keyakinan-keyakinan melalui pengalaman-pengalaman, pengamatan terhadap model-model, dan pengajaran. Pengetahuan dipandang akurat jika ia mencerminkan realitas eksternal.
Endogenous
Pengetahuan diperoleh dari pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya tidak secara langsung dari interaksi-interaksi lingkungan. Pengetahuan bukanlah sebuah cermin dari dunia luar; pengetahuan itu berkembang melalui abstraksi kognitif.
Dialektikal
Pengetahuan diperoleh dari interaksi-interaksi antara orang-orang dan lingkungan-lingkungan mereka. Kontruksi-kontruksi atau interpretasi-interpretasi tidak selalu terikat dengan dunia luar ataupun keseluruhan kegiatan pikiran. Pengetahuan mencerminkan hasil-hasil dan kontradiksi-kontradiksi mental yang ditimbulkan dari interaksi-interaksi seseorang dengan lingkungan.
          Masing-masing dari perspektif-perspektif di atas memiliki keunggulan dan potensi manfaat bagi penelitian dan pengajaran.
1.             Perspektif eksogenus sesuai bagi kita ketika tertarik untuk mengetahui seberapa akurat siswa memahami struktur pengetahuan di dalam sebuah bidang studi.
2.             Prespektif endogenus relevan bagi kita jika kita ingin meneliti bagaimana siswa berkembang dari seorang pemula ke level-level kompetensi yang lebih tinggi.
3.             Pandangan dialektikal akan bermanfaat bagi kita ketika kita ingin merencanakan intervensi-intervensi untuk mendorong pemikiran anak-anak dan untuk mengarahkan penelitian untuk menemukan efektivitas dari pengaruh-pengaruh sosial seperti paparan terhadap model-model dan kerja sama dengan teman sebaya.
Kognisi Berkonteks (Situated Cognition)
          Inti pemikiran dari kontruktivisme adalah bahwa proses-proses kognitif (termasuk berpikir dan belajar) terletak dalam situasi-situasi atau konteks-konteks fisik dan sosial (Anderson, Reder, & Simon, 1996; Cobb & Bowers; Greenoo et al., 1998). Kognisi berkonteks atau pembelajaran dalam situasi tertentu merupakan hubungan-hubungan antara seseorang dengan sebuah situasi tertentu; proses-proses kognitif tidak hanya berada dalam benak seseorang (Greeno, 1989).
          Kognisi berkonteks memerhatikan pandangan intuitif yang mengatakan bahwa banyak proses salng berinteraksi untuk menghasilkan pembelajaran. Kita tahu bahwa motivasi dan pengajaran saling terkait di mana pengajaran yang baik dapat meningkatkan motivasi untuk belajar dan pembelajaran siswa yang termotivasi mencari lingkungan-lingkungan pengajaran yang efektif (schunk,1995).
          Manfaat perspektif kognisi berkonteks adalah bahwa perspektiff ini mengarahkan para peneliti untuk mengeksplorasi kognisi dalam konteks-konteks pembelajaran autentik seperti sekolah, tempat kerja, dan rumah di mana banyak di antaranya yang melibatkan mentoring atau praktik-praktik magang.
Kontribusi dan Aplikasi
          Bereiter (1994) mengatakan bahwa pernyataan “siswa membangun pengetahuan mereka sendiri” bukan pernyataan yang salah, tapi benar bagi seluruh teori pembelajaran kognitif. Teori-teori kognitif memandang pikiran sebagai sebuah wadah keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, harapan-harapan, skemata, dan sebagainya sehingga semua penjelasan yang mungkin tentang bagaimana pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan tersebut terbentuk di dalam sana.
          Sebagai contoh, teori kognitif sosial menonjolkan peran harapan-harapan (misalnya; efikasi-diri, hasil) dan tujuan-tujuan; dan keyakinan-keyakinan dan kognisi ini tidak muncul dari mana-mana, melainkan dibangun oleh siswa sendiri.
          Kekurangan dari banyak bentuk kontruktivisme adalah penekanan terhadap relativisme (Phillips, 1995); yaitu pandangan bahwa semua bentuk pengetahuan dapat dibenarkan karena dibangun oleh para siswa terutama jika pengetahuan-pengetahuan tersebut mencerminkan konsensus masyarakat. Kontruktivisme juga menggarisbawahi fokus perhatian saat ini terhadap pengajaran reflektif.

TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGET
          Teori piaget tidak banyak mendapat perhatian ketika baru pertama muncul, tetapi perlahan-lahan teori ini naik ke posisi atas dalam bidang ilmu perkembangan manusia. Yang akan dipaparkan berikut ini adalah gambaran singkat mengenai poin-poin utama yang relevan dengan kontruktivisme dan pembelajaran.
Proses-proses Perkembangan Kognitif
          Menurut piaget, perkembangan kognitif tergantung dari empat faktor: Pertumbuhan biologis, Pengalaman dengan lingkungan fisik, Pengalaman dengan lingkungan sosial, Ekuilibrasi. Tiga faktor pertama tidak perlu dijelaskan lagi tetapi efek-efeknya tergantung pada faktor keempat yaitu ekuilibrasi.
          Ekuilibrasi mengacu pada dorongan biologis untuk menciptakan sebuah kondisi keseimbangan atau ekuilibrium (adaptasi) yang optimal antara sturtur-struktur kognitif dan lingkungan (Duncan, 1995). Ekuilibrasi merupakan faktor utama dan dorongan motivasi di belakang perkembangan kognitif. Ekuilibrasi mengoordinasikan tindakan-tindakan dari tiga faktor lainnya dan membuat struktur-struktur mental dan realitas lingkungan eksternal konsisten terhadap satu sama lain.
Tabel 6.2
Tahapan-tahapan perkembangan kognitif Piaget
Tahapan
Jangkauan Perkiraaan Usia (dalam satu tahun)
Sensorikmotor
Lahir sampai 2
Pra-operasional
2 sampai 7
Operasional konkret
7 sampai 11
Operasional formal
11 sampai dewasa

Mekanisme Pembelajaran
          Pembelajaran terjadi ketika anak-anak mengalami konflik kognitif dan terlibat dalam asimilasi dan akomodasi untuk membangun atau mengubah struktur-struktur internal. Namun, sebaiknya konfliknya tidak terlalu besar karena hal tersebut tidak akan memicu ekuilibrasi. Pembelajaran akan optimal ketika konfliknya kecil dan terutama ketika anak-anak ada dalam transisi antar tahapan.
          Teori piaget bersifat kontruktivis karena teori ini berasumsi bahwa anak-anak menerapkan konsep-konsep mereka terhadap dunia dalam upaya memahaminya (Byrnes, 1996). Konsep-konsep ini bukan bawaan lahir; anak-anak memperolehnya melalui pengalaman-pengalaman normal. Informasi dari lingkungan (termasuk orang-orang) tidak secara otomatis diterima, tetapi diproses menurut struktur-struktur mental anak-anak yang tersedia. Anak-anak memahami lingkungan-lingkungan mereka dan membangun realitas berdaasarkan kapabilitas-kapabilitas mereka pada saat sekarang. Pada gilirannya, konsep-konsep dasar ini berkembang menjadi pandangan-pandangan yang lebih sempurna melalui pengalaman.


Implikasi-implikasinya Bagi Pengajaran
          Piaget berpendapat bahwa perkembangan kgnitif tidak dapat diajarkan meskipun bukti-bukti penelitian menunjukkan bahwa perkembangan tersebut dapat dipercepat (Zimmerman & Whitehurts, 1979). Adapun implikasi-implikasi teori piaget bagi pendidikan adalah:
1.             Pahami perkembangan kognitifnya
2.             Jaga agar siswa tetap aktif
3.             Ciptakan ketidaksesuaian
4.             Memberikan interaksi sosial

TEORI SOSIOKULTURAL VYGOTSKY
Prinsip Dasar
          Teori Vygotsky lebih menitikberatkan interaksi faktor-faktor interpersonal (sosial), kultural-historis dan individual sebagai kunci dari perkembangan manusia. Perkembangan yang dimaksudkan adalah bergantung pada sistem-sistem isyarat mengacu pada simbol-simbol yang diciptakan oleh budaya untuk membantu orang berfikir, berkomunikasi dan memecahkan masalah, dengan demikian  perkembangan kognitif anak mensyaratkan sistem  komunikasi budaya dan belajar menggunakan sistem-sistem ini  untuk menyesuaikan proses-proses berfikir diri sendiri.
          Dalam faktor interpersonal atau sosial terdapat interaksi dengan dua orang atau lebih atau orang-orang di lingkungan sekitar akan dapat membantu pembelajaran. Pengalaman-pengalaman yang dibawa ke sebuah situasi pembelajaran sangat mempengaruhi proses belajar. Aspek kultural-historis dari teori Vygotsky menunjukkan pemikiran bahwa pembelajaran dan perkembangan tidak dapat dipisahkan dari konteksnya. Ada juga faktor individual atau keturunan yang mempengaruhi perkembangan.
          Dari tiga pengaruh ini, yang mendapatkan paling banyak perhatian adalah pengaruh interpersonal. Pandangan Vygotsky menganggap bahwa lingkungan sosial sangat penting bagi pembelajaran dan berpikir. Siswa belajar melalui interaksi bersama dengan orang dewasa atau teman yang lebih cakap, sehingga terjadi interaksi-interaksi sosial yang dapat mengubah atau mentransformasi pegalaman-pengalaman belajar. Lingkungan sosial mempengaruhi kognisi melalui alat-alatnya (objek-objek kultural), Bahasa, symbol dan instusi-instusi sosial. Pandangan ini juga merupakan bentuk konstruktivisme dialektikal. Pendekatan pembelajaran yang dipandang sesuai adalah  dengan pembelajaran kooperatif.
          Terdapat dua implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan. Pertama, dikehendakinya setting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar kelompok-kelompok siswa dengan kemampuan yang berbeda, sehingga siswa dapat berinteraksi dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam daerah pengembangan terdekat/proksimal masing-masing. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran menekankan perancahan (scaffolding). Dengan scaffolding, semakin lama siswa semakin dapat mengambil tanggung jawab untuk pembelajarannya sendiri.
a.    Pengelolaan pembelajaran
          Interaksi sosial individu dengan lingkungannya sengat mempengaruhi perkembanganbelajar seseorang, sehingga perkemkembangan sifat-sifat dan jenis manusia akan dipengaruhi oleh kedua unsur tersebut. Menurut Vygotsky dalam Slavin (2000), peserta didik melaksanakan aktivitas belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sejawat yang mempunyai kemampuan lebih. Interaksi sosial ini memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual peserta didik.
b.    Pemberian bimbingan
          Menurut Vygotsky, tujuan belajar akan tercapai dengan belajar menyelesaikan tugas-tugas yang belum dipelajari tetapi tugas-tugas tersebut masih berada dalam daerah perkembangan terdekat mereka (Wersch,1985), yaitu tugas-tugas yang terletak di atas peringkat perkembangannya. Menurut Vygotsky, pada saat peserta didik melaksanakan aktivitas di dalam daerah perkembangan terdekat mereka, tugas yang tidak dapat diselesaikan sendiri akan dapat mereka selesaikan dengan bimbingan atau bantuan orang lain.
Zona Perkembangan Proksimal (ZPD)
          Konsep ini didefinisikan sebagai jarak antara level perkembangan yang ditentukan melalui pemecahan masalah secara mandiri dan level potensi perkembangan yang ditentukan oleh pemecahan masalah. ZPD ini lebih merupakan sebuah tes dari kesiapan perkembangan siswa (level intelektual) dalam bidang tertentu. Siswa akan dapat mempelajari konsep-konsep dengan baik jika berada dalam ZPD. Siswa bekerja dalam ZPD jika siswa tidak dapat memecahkan masalah sendiri, tetapi dapat memecahkan masalah itu setelah mendapat bantuan orang dewasa atau temannya (peer). Bantuan atau support dimaksud agar si anak mampu untuk mengerjakan tugas-tugas atau soal-soal yang lebih tinggi tingkat kerumitannya dari pada tingkat perkembangan kognitif si anak.
Aplikasi-Aplikasi
          Ide Vygotsky banyak dimanfaatkan dalam banyak aplikasi pendidikan. Aplikasi yang umum dipakai adalah konsep pemberian struktur penyangga pengajaran atau pemberian bantuan pengajaran (instructional scaffolding). Aplikasi lainnya adalah pengajaran timbal balik (reciprocal teaching). Pengajaran timbal balik merupakan dialog interaktif antara guru dengan sekelompok kecil siswa. Satu bentuk aplikasi lain yang juga penting adalah kerja sama atau kolaborasi dengan teman sebaya (peer collaboration). Sebuah aplikasi yang relevan dengan teori Vygotsky dan dengan kognisi berkonteks adalah tuntunan sosial melalui praktik magang.
Masa Magang Kognitif (cognitif apprenticeship).
          Suatu proses yang menjadikan siswa sedikit demi sedikit memperoleh kecakapan intelektual melalui interaksi dengan orang yang lebih ahli (pakar), orang dewasa, atau teman yang lebih pandai.

TUTURAN PRIBADI DAN PEMBELAJARAN DENGAN MEDIASI SOSIAL
Tuturan Pribadi atau Bergumam (Private Speech)
          Berguman adalah berbicara dengan diri sendiri atau berbicara dalam hati untuk tujuan membimbing dan mengarahkan diri sendiri. Menurut Vygotsky, private speech dapat memperkuat interaksi sosial anak dengan orang lain. Private speech dapat dilihat pada seorang anak yang dihadapkan pada suatu masalah dalam sebuah ruangan di mana terdapat orang lain, biasanya orang dewasa. Anak kelihatannya berbicara pada dirinya sendiri mengenai masalah tertentu, tetapi pembicaraanya diarahkan pada orang dewasa. Private speech kemudian dihalangi, tertangkap dan ditransformasikan ke dalam proses berfikir.
Verbalisasi dan Prestasi
          Verbalisasi sangat bermanfaat bagi siswa yang sering mengalami kesulitan belajar memperhatikan materi dan menguasai keterampilan, dan melakukan tugas dengan cara yang kurang mendukung. Verbalisasi membantu siswa yang mengalami masalah-masalah pembelajaran untuk bekerja secara sistematis.
Pembelajaran dengan Mediasi Sosial
          Pembelajaran dengan Mediasi Sosial ini lebih dikenal juga sebagai Pembelajaran Termediasi (mediated learning). Vygostky menekankan pada scaffolding atau tingkat pengetahuan. Menurutnya, scaffolding ini siswa diberi masalah yang kompleks, sulit, dan realistik, dan kemudian diberi bantuan secukupnya dalam memecahkan masalah siswa.  Ini berarti memberikan kepada seorang individu sejumlah bantuan besar selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah mampu mengerjakan sendiri. Dorongan guru sangat dibutuhkan agar pencapaian siswa ke jenjang yang lebih tinggi menjadi optimum. Bantuan yang diberikan pembelajar dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri. Dapat disimpulkan bahwa scaffolding, berarti upaya pengajar untuk membimbing siswa dalam upayanya mencapai keberhasilan.
          Vygotsky mengemukakan tiga kategori pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu (1) siswa mencapai keberhasilan dengan baik, (2) siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan, (3) siswa gagal meraih keberhasilan.
Kesimpulan
          Teori Vigotsky lebih menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurutnya, fungsi kognitif manusia berasal dari interaksi social masing-masing individu dalam konteks budaya. Vigotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka.

MOTIVASI
          Konstrukvisme sebagaian besar merupakan teori perkembangan manusia pada tahun-tahun belakang ini telah diaplikasikan dalam pembelajaran. Tidak banyak tulisan yang membahas tentang peran motivasi dalam konstrukvisme. Konstrukvisme dapat diaplikasikan pada motivasi, dan beberapa prinsip motivasi yang diteliti oleh para peneltian dari pandangan-pandangan teoritis lain sangat sesuai dengan konstruktivisme (Sivan, 1986).
          Konstruktivisme memberi penekanan pada kognisi berkonteks dan pentingnya memperhitungkan konteks lingkungan untuk menjelaskan perilaku. Sebuah topik yang relavan  dengan konstruktivisme adalah organisasi dan struktur dari lingkungan-lingkungan pembelajaran; yaitu bagaimana para siswa dikelompokan dalam pengajaran, bagaimana hasil belajar dievalusi dan dihargai, bagaimana otoritas dibangun, dan bagaimana waktu dijadwalkan.
          Sebuah aspek penting dari organisasi adalah dimensionalitas (Rosenholtz&Simpson, 1984). Kelas yang tidak dimensional adalah kelas yang dimiliki sedikit aktivitas yang hanya melibatkan cakupan yang berbatas untuk kemampuan-kemampuan siswa. Kelas multidimensional memiliki lebih banyak aktivitas dan mengakomodir keragaman dalam kemampuan dan kinerja belajar siswa.
          Karakteristik-karakteristik kelas yang mengindikasikan dimensional adalah terdapat pembedaan dalam struktur tugas, otonomi siswa, pola-pola pengelompokan, dan menonjolnya evaluasi-evaluasi kinerja belajar formal. Kelas yang tidak dimensional memiliki sruktur tugas yang dibedakan.
Tabel Karakteristik-karakteristik Dimensionalitas
Karakteristik
Tidak Dimensional
Multidimensional
Perbedaan struktur tugas
Tidak dibedakan; siswa mengerjakan tugas yang sama
Dibedakan; siswa mengerjakan tugas yang berbeda-beda
Otonomi Siswa
Rendah; siswa memliki sedikit pilihan
Tinggi; siswa mempunyai banyak pilihan
Pola-pola Pengelompokan
Seluruh kelas; siswa dikelompokan berdasarkan kemampuan
Kerja individual; siswa tidak dikelompokan berdasarkan kemampuan
Evaluasi-evaluasi kinerja belajar
Siswa mendapatkan nilai untuk tugas-tugas yang sama; nilai-nilai bersifat publik; banyak perbandingan sosial
Siswa mendapat nilai untuk tugas yang berbeda-beda, penilaian bersifat lebih tidak publik; tidak banyak perbandingan sosial

          Kelas tidak dimensional ketika otonominya rendah; dan dapat menghalangi pengaturan diri serta menekan motivasi. Kelas multidimensional memberikan lebih banyak pilihan bagi siswa hal yang dapat meningkatkan motivasi.
          Dalam kelas yang tidak dimensional, prestasi belajar terlihat jelas (Rosenholtz, 1981). Hal ini dapat memotivasi siswa berprestasi tinggi untuk belajar, tetapi kondisi ini sering menghasilkan efek negative pada siswa yang lainnya. Kelas-kelas multidimensioanal cenderung memotivasi siswa karena kelas seperti ini menyuguhkan lebih banyak pembedaan dan otomoni, lebih sedikit pengelompokan berdasarkan kemampuan, dan lebih banyak fleksibilitas dalam penilaian selain juga penilaian tidak bersifat publik.

Tabel Faktor-Faktor Target yang Mempengaruhi Motivasi dan Pembelajaran
Faktor
Karakteristik
Tugas
Merancang kegiatan-kegiatan belajar dan tugas-tugas
Otoritas
Kondisi dimana siswa mendapat tanggung jawab untuk memimpin dan mengembangkan kemandirian serta control aktivitas-aktivitas belajar
Pengakuan
Penggunaan formal dan informal dari imbalan, insentif, maupun ujian
Pengelompokan
Individual, kelompok kecil, kelompok besar
Evaluasi
Metode-metode untuk memantau dan menilai pembelajaran
Waktu
Kesesuaian beban kerja, ritme pembelajaran, waktu yang dialokasikan untuk menyelesaikan tugas

1)   Otoritas mengacu pada apakah siswa siswa dapat tanggung jawab untuk memimpin dan mengembangkan kemandirian serta control atas aktivitas-aktivitas belajar.
2)   Pengakuan, yang bermakna penggunaan formal dan informal dari imbalan, insentif, maupun pujian, memiliki pengaruh-pengaruh penting terhadap pembelajaran yang bermotivasi (Scchunk, 1995)
3)   Dimensi pengelompokan fokus pada kemampuan siswa untuk bekerja sama dengan para siswa lainnya.
4)   Evaluasi mencangkup metode-metode untuk memantau dan menilai pembelajaran siswa, misalnya mengevaluasi kemajuan individu dan penguasaan materi dari masing masing siswa.
5)   Waktu merupakan karakteristik kesesuain beban kerja, ritme pelajaran, dan waktu yang dialokasikan untuk menyelesaikan tugas (Epstein, 1989)
Teori-teori Implisit
          Teori implisit tentang persoalan-persolan seperti bagaimana mereka belajar, apa saja yang dapat membantu prestasi belajar disekolah dan bagaimana motivasi mempengaruhi kinerja belajar. Teori-teori implisit tentang proses-proses seperti belajar, berpikir, dan kemampuan, mempengaruhi bagaimana siswa terlibat dalam pembelajaran dan pandagan-pandangan mereka tentan apa yang dapat membuatnya berhasil di dalam dan di luar kelas. Teori implisit dapat memengaruhi cara siswa memproses informasi. Teori implisit cenderung berbentuk ketika anak-anak menghadapi pengaruh-pengaruh sosial. Hal-hal yang juga penting  dalam hal ini adalah bagaimana anak-anak menyempurnakan, memadukan, dan mengembangkan pemahaman konseptual mereka sebagai sebuah fungsi pengalaman.
Harapan-Harapan Guru
          Harapan yang dimiliki guru terhadap siswa dapat memberikan pengaruh positif ataupun negative bagi siswa. Pratik-pratik ini dapat membantu mencegah efek-efek negatif dari harapan:
a.    Menerapkan aturan-aturan secara adil dan kosinten
b.    Anggap semua siswa mampu belajar dan sampaikan harapan tersebut kepada mereka.
c.    Jangan membeda-bedakan harapan untuk siswa berdasarkan hal-hal yang tidak terkait dengan kinerja belajar.
d.   Jangan menerima alasan-alasan untuk hasil kerja yang buruk.
e.    Sadari bahwa batas-batas dari kemampuan siswa tidak diketahui dan relavan dengan pembelajaran di sekolah.

LINGKUNGAN-LINGKUNGAN PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVIS
          Dalam kelas konstruktivis kurikulumnya difokuskan pada konsep-konsep besar. Aktivitas-aktivitasnya biasanya mencakup sumber-sumber data primer dan materi-materi manipulative. Guru berinterksi dengan siswa dengan menarik pertanyaan dari mereka dan sudut pandang mereka. Prinsip-Prinsip Penuntun untuk lingkungan-lingkungan pembelajaran konstruktivis:
·      Menghadirkan masalah-masalah yang semakin kuat relevansinya kepada siswa
·      Menyusun pembelajaran di seputar konsep-konsep pokok
·      Mencari tahu dan menghargai sudut pandang siswa
·      Mengadaptasi kurikulum untuk memerhatikan asumsi-asumsi siswa
·      Menilai pembelajaran siswa dalam konteks pengajaran
Beberapa prinsip penuntun untuk lingkungan-lingkungan pembelajaran konstruktivis dalam table diatas:
a.    Guru harus menghadirkan masalah-masalah yang semakin jelas relevansinya untuk siswa dimana relevansinya telah ada sebelum atau timbul melalui mediasi guru.
b.    Pembelajaran harus disusun disekitar konsep-konsep pokok
c.    Mencari tahu dan menghargai sudut pandang siswa.
d.   Mengadaptasi kurikulum untuk memperhatikan asumsi-asumsi siswa.
e.    Pendidikan konstruktivis menghimbau agar kita menilai pembelajaran siswa dalam konteks pengajaran.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran Berbasis siswa a la APA
          Prinsip ini dikelompokan menjadi empat kategori utama: faktor-faktor kognitif dan metakognitif, faktor-faktor motivasional dan efektif, faktor-faktor perkembangan dan sosial, dan perbedaan-perbedaan individu. Faktor-faktor kognitif dan metakognitif meliputi sifat dari proses pembelajaran, tujuan-tujuan pembelajaran, kontruksi pengetahuan, pemikiran strategis, berpikir tentan pikiran dan muatan pembelajaran. Faktor-faktor motivaasional dan efektif mencerminkan pengaruh motivasional dan emosional terhadap pembelajaran, motivasi intrinsic untuk belajar, dan efek-efek motivasi terhadap usaha.

Aplikasi-Aplikasi dalam Pengajaran
Belajar-Menemukan
          Proses penemuan. Belajar menemukan mengacu pada penguasan pengetahuan untuk diri sendiri (Bruner, 1961). Penemuan melibatkan perumusan dan pengujian hipotesis, bukan sekedar membaca dan mendengarkan guru menerangkan. Penemuan adalah sebuah tipe penalaran induktif karena siswa bergerak dari mempelajari contoh-contoh spesifik ke merumuskan aturan-aturan, konsep-konsep dan prinsip umumnya.
          Mengajarkan Penemuan. Mengajarkan penemuan memerlukan pengajuan pertanyaan-pertanyaan, permasalahan-permasalahan, atau situasi-situasi yang membingunkan untuk diselesaikan dan dorongan bagi para siswa untuk membuat tebakan-tebakan jawaban yang intuitif jika mereka tidak yakin.
Pembelajaran Berbasis Penelitian
          Pembelajaran berbasis penelitian adalah bentuk belajar menemukan, meskipun tipe ini dapat disusun supaya mencakup lebih banyak arahan guru (Collins, 1997). Tujuan-tujuannya adalah mendorong siswa mengunakan nalarnya, memperoleh prinsip umum dan mengaplikasikannya pada situasi baru, dalam mengimplementasikan model ini guru berulang-ulang memberikan pertanyaan kepada siswa.
Pembelajaran dengan bantuan teman sebaya
          Pembelajaran dengan bantuan teman sebaya mengacu pada pendekatan-pendekatan pengajar dimana teman sebaya pelaku aktif dalam proses pembelajran (Rohbeck, 2003). Pembelajaran dengan bantuan teman sebaya paling efektif diterapkan pada anak-anak yang lebih muda, tinggal diperkotaan, berpendapatan rendah, dan dari kelompok minoritas.

Diskusi atau Debat
          Diskusi kelas akan bermanfaat ketika tujuan adalah mendapatkan pemahaman konsep yang tinggi atau berbagai sisi pembahasan dari topic. Topic yang dihasilkan diskusi adalah topic dimana tidak ada jawaban yang jelas benar, tetapi lebih  melibatkan persoalan yang kompleks atau kontroversal.metode diskusi sesuai untuk berbagai disiplin ilmu seperti sejarah, ilmu pengetahuan, dan ekonomi.
Pengajaran Reflektif
          Pengajaran reflektif didasarkan pada pengambilan keputusan yang cermat yang memperhitungkan pengethuan tentang siswa, kontek, proses-proses psikologi, pembelajaran dan motivasi dan pengetahuan tentang diri sendiri.
Komponen-Kompenen dari Keputusan-Keputusan Pengajaran Reflektif:
·      Peka terhadap konteks
·      Ditutun oleh perencanaan yang fleksibel.
·      Didukung oleh pengetahuan professional.
·      Ditunjang oleh kesempatan-kesempatan pengembang profesi formal dan informal.
          Menjadi seorang guru yang reflektif adalah sebuah keterampilan, dan seperti keterampilan-keterampilan lainnya, keterampilan ini membutuhkan pengajaran dan praktik. Saran-saran ini berguna untuk pengembangan keterampilan ini:
·      Seorang guru yang reflektif membutuhkan pengetahuan personal yang baik.
·      Guru yang reflektif memerlukan pengetahuan professional.
·      Pengajaran terdiri dari perencanaan dan penilaian.



No comments

Contoh LK 3.1 Best Practice PPG Daljab Kategori 2 tahun 2022

Silahkan klik link dibawah ini untuk download:   Contoh LK 3.1 Best Practice

Powered by Blogger.