KONSTRUKTIVISME
Asumsi-Asumsi
dan Perspektif-Perspektif
Kontruktivisme
adalah perspektif psikologis dan filosofi yang memandang bahwa masing-masing
individu membentuk atau membangun sebagian besar dariapa yang mereka pelajari
dan pahami (Bruning et al., 2004).
1.
Asumsi-asumsi
Asumsi
utama dari kontruktivisme adalah, manusia merupakan siswa aktif yang
mengembangkan pengetahuan bagi diri mereka sendiri (Geary, 1995).
Kontruktivisme menjelaskan bahwa untuk memehami materi dengan baik, siswa harus
menemukan .prinsip-prinsip dasar. Maksudnya, fungsi ini seluruhnya bukan
berasal dari para pembelajar, akan tetapi mereka meyakini bahwa
struktur-struktur mental hadir untuk mencerminkan realita. Para kontruktivis
juga berselisih pendapat tentang berapa banyak mereka melihat konstruksi
pengetahuan berasal dari interaksi-interaksi sosial dengan guru-guru,
teman-teman sebaya, para orang tua, dan
pihak-pihak lainnya (Bredo, 1997).
Meskipun kontruktivisme tampak sebagai
paham baru dalam kancah pembelajaran, tapi ini merupakan epistemologi
kontruktivisme, dimana kontruktivisme telah memengaruhi toeri dan penelitian
tentang pembelajaran dan perkembangn.
Kontruktivisme
juga telah memengaruhi pendidikan dalam bidang pendidikan mengenai kurikulum
dan pengajaran. Paham ini melandasi penitikberatan terhadap kurikulum terpadu dimana
siswa mempelajari sebuah topik menurut lebih dari satu perspektif.
Asumsi kontruktivisme lainnya adalah
guru sebaiknya tidak mengajar dalam artian menyampaikan pelajaran dengan cara tradisional
kepada siswa. Guru seharusnya membangun situasi-situasi sedemikian rupa sehingga
siswa dapat terlibat secara aktif dengan materi pelajaran melalui pengolahan materi-materi
dan interaksi sosial. Aktivitas-aktivitas pembelajaran kontruktivis:
a.
Fenomena-fenomena
b.
Mengumpulkan data-data
c.
Merumuskan dan menguji hipotesis-hipotesis,
dan
d.
Bekerja sama dengan orang lain.
Tabel
6.1
Perspektif-perspektif
tentang Kontruktivisme
|
Perspektif
|
Dasar Pikiran
|
|
Eksogenus
|
Penguasaan pengetahuan mempresentasikan sebuah
kontruksi ulang dari dunia luar. Dunia memengaruhi keyakinan-keyakinan
melalui pengalaman-pengalaman, pengamatan terhadap model-model, dan
pengajaran. Pengetahuan dipandang akurat jika ia mencerminkan realitas
eksternal.
|
|
Endogenous
|
Pengetahuan diperoleh dari pengetahuan yang telah
dipelajari sebelumnya tidak secara langsung dari interaksi-interaksi
lingkungan. Pengetahuan bukanlah sebuah cermin dari dunia luar; pengetahuan
itu berkembang melalui abstraksi kognitif.
|
|
Dialektikal
|
Pengetahuan diperoleh dari interaksi-interaksi
antara orang-orang dan lingkungan-lingkungan mereka. Kontruksi-kontruksi atau
interpretasi-interpretasi tidak selalu terikat dengan dunia luar ataupun
keseluruhan kegiatan pikiran. Pengetahuan mencerminkan hasil-hasil dan
kontradiksi-kontradiksi mental yang ditimbulkan dari interaksi-interaksi
seseorang dengan lingkungan.
|
Masing-masing dari
perspektif-perspektif di atas memiliki keunggulan dan potensi manfaat bagi
penelitian dan pengajaran.
1.
Perspektif eksogenus sesuai bagi kita
ketika tertarik untuk mengetahui seberapa akurat siswa memahami struktur
pengetahuan di dalam sebuah bidang studi.
2.
Prespektif endogenus relevan bagi kita
jika kita ingin meneliti bagaimana siswa berkembang dari seorang pemula ke
level-level kompetensi yang lebih tinggi.
3.
Pandangan dialektikal akan bermanfaat
bagi kita ketika kita ingin merencanakan intervensi-intervensi untuk mendorong
pemikiran anak-anak dan untuk mengarahkan penelitian untuk menemukan
efektivitas dari pengaruh-pengaruh sosial seperti paparan terhadap model-model
dan kerja sama dengan teman sebaya.
Kognisi Berkonteks (Situated Cognition)
Inti pemikiran dari kontruktivisme
adalah bahwa proses-proses kognitif (termasuk berpikir dan belajar) terletak
dalam situasi-situasi atau konteks-konteks fisik dan sosial (Anderson, Reder,
& Simon, 1996; Cobb & Bowers; Greenoo et al., 1998). Kognisi berkonteks
atau pembelajaran dalam situasi tertentu merupakan hubungan-hubungan antara
seseorang dengan sebuah situasi tertentu; proses-proses kognitif tidak hanya
berada dalam benak seseorang (Greeno, 1989).
Kognisi berkonteks memerhatikan pandangan
intuitif yang mengatakan bahwa banyak proses salng berinteraksi untuk
menghasilkan pembelajaran. Kita tahu bahwa motivasi dan pengajaran saling
terkait di mana pengajaran yang baik dapat meningkatkan motivasi untuk belajar
dan pembelajaran siswa yang termotivasi mencari lingkungan-lingkungan
pengajaran yang efektif (schunk,1995).
Manfaat perspektif kognisi berkonteks
adalah bahwa perspektiff ini mengarahkan para peneliti untuk mengeksplorasi
kognisi dalam konteks-konteks pembelajaran autentik seperti sekolah, tempat
kerja, dan rumah di mana banyak di antaranya yang melibatkan mentoring atau
praktik-praktik magang.
Kontribusi dan Aplikasi
Bereiter (1994) mengatakan bahwa
pernyataan “siswa membangun pengetahuan mereka sendiri” bukan pernyataan yang
salah, tapi benar bagi seluruh teori pembelajaran kognitif. Teori-teori
kognitif memandang pikiran sebagai sebuah wadah keyakinan-keyakinan,
nilai-nilai, harapan-harapan, skemata, dan sebagainya sehingga semua penjelasan
yang mungkin tentang bagaimana pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan tersebut
terbentuk di dalam sana.
Sebagai contoh, teori kognitif sosial
menonjolkan peran harapan-harapan (misalnya; efikasi-diri, hasil) dan
tujuan-tujuan; dan keyakinan-keyakinan dan kognisi ini tidak muncul dari mana-mana,
melainkan dibangun oleh siswa sendiri.
Kekurangan dari banyak bentuk
kontruktivisme adalah penekanan terhadap relativisme
(Phillips, 1995); yaitu pandangan bahwa semua bentuk pengetahuan dapat
dibenarkan karena dibangun oleh para siswa terutama jika
pengetahuan-pengetahuan tersebut mencerminkan konsensus masyarakat.
Kontruktivisme juga menggarisbawahi fokus perhatian saat ini terhadap pengajaran reflektif.
TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGET
Teori piaget tidak banyak mendapat
perhatian ketika baru pertama muncul, tetapi perlahan-lahan teori ini naik ke
posisi atas dalam bidang ilmu perkembangan manusia. Yang akan dipaparkan
berikut ini adalah gambaran singkat mengenai poin-poin utama yang relevan
dengan kontruktivisme dan pembelajaran.
Proses-proses Perkembangan Kognitif
Menurut piaget, perkembangan kognitif
tergantung dari empat faktor: Pertumbuhan biologis, Pengalaman dengan
lingkungan fisik, Pengalaman dengan lingkungan sosial, Ekuilibrasi. Tiga faktor
pertama tidak perlu dijelaskan lagi tetapi efek-efeknya tergantung pada faktor
keempat yaitu ekuilibrasi.
Ekuilibrasi mengacu pada dorongan
biologis untuk menciptakan sebuah kondisi keseimbangan atau ekuilibrium (adaptasi) yang optimal antara sturtur-struktur
kognitif dan lingkungan (Duncan, 1995). Ekuilibrasi merupakan faktor utama dan
dorongan motivasi di belakang perkembangan kognitif. Ekuilibrasi
mengoordinasikan tindakan-tindakan dari tiga faktor lainnya dan membuat
struktur-struktur mental dan realitas lingkungan eksternal konsisten terhadap
satu sama lain.
Tabel 6.2
Tahapan-tahapan
perkembangan kognitif Piaget
|
Tahapan
|
Jangkauan
Perkiraaan Usia (dalam satu tahun)
|
|
Sensorikmotor
|
Lahir
sampai 2
|
|
Pra-operasional
|
2
sampai 7
|
|
Operasional
konkret
|
7
sampai 11
|
|
Operasional
formal
|
11
sampai dewasa
|
Mekanisme Pembelajaran
Pembelajaran terjadi ketika anak-anak
mengalami konflik kognitif dan terlibat dalam asimilasi dan akomodasi untuk
membangun atau mengubah struktur-struktur internal. Namun, sebaiknya konfliknya
tidak terlalu besar karena hal tersebut tidak akan memicu ekuilibrasi.
Pembelajaran akan optimal ketika konfliknya kecil dan terutama ketika anak-anak
ada dalam transisi antar tahapan.
Teori piaget bersifat kontruktivis
karena teori ini berasumsi bahwa anak-anak menerapkan konsep-konsep mereka
terhadap dunia dalam upaya memahaminya (Byrnes, 1996). Konsep-konsep ini bukan
bawaan lahir; anak-anak memperolehnya melalui pengalaman-pengalaman normal.
Informasi dari lingkungan (termasuk orang-orang) tidak secara otomatis
diterima, tetapi diproses menurut struktur-struktur mental anak-anak yang
tersedia. Anak-anak memahami lingkungan-lingkungan mereka dan membangun
realitas berdaasarkan kapabilitas-kapabilitas mereka pada saat sekarang. Pada
gilirannya, konsep-konsep dasar ini berkembang menjadi pandangan-pandangan yang
lebih sempurna melalui pengalaman.
Implikasi-implikasinya Bagi
Pengajaran
Piaget berpendapat bahwa perkembangan
kgnitif tidak dapat diajarkan meskipun bukti-bukti penelitian menunjukkan bahwa
perkembangan tersebut dapat dipercepat (Zimmerman & Whitehurts, 1979).
Adapun implikasi-implikasi teori piaget bagi pendidikan adalah:
1.
Pahami perkembangan kognitifnya
2.
Jaga agar siswa tetap aktif
3.
Ciptakan ketidaksesuaian
4.
Memberikan interaksi sosial
TEORI SOSIOKULTURAL
VYGOTSKY
Prinsip Dasar
Teori
Vygotsky lebih menitikberatkan interaksi faktor-faktor interpersonal (sosial),
kultural-historis dan individual sebagai kunci dari perkembangan manusia. Perkembangan yang dimaksudkan adalah bergantung
pada sistem-sistem isyarat mengacu pada simbol-simbol yang diciptakan oleh
budaya untuk membantu orang berfikir, berkomunikasi dan memecahkan masalah,
dengan demikian perkembangan kognitif anak mensyaratkan sistem
komunikasi budaya dan belajar menggunakan sistem-sistem ini untuk
menyesuaikan proses-proses berfikir diri sendiri.
Dalam
faktor interpersonal atau sosial terdapat interaksi dengan dua orang atau lebih
atau orang-orang di lingkungan sekitar akan dapat membantu pembelajaran.
Pengalaman-pengalaman yang dibawa ke sebuah situasi pembelajaran sangat
mempengaruhi proses belajar. Aspek kultural-historis dari teori Vygotsky
menunjukkan pemikiran bahwa pembelajaran dan perkembangan tidak dapat dipisahkan
dari konteksnya. Ada juga faktor individual atau keturunan yang mempengaruhi
perkembangan.
Dari tiga pengaruh ini, yang mendapatkan paling banyak perhatian
adalah pengaruh interpersonal.
Pandangan Vygotsky menganggap bahwa lingkungan sosial sangat penting bagi pembelajaran
dan berpikir. Siswa
belajar melalui interaksi bersama dengan orang dewasa atau teman yang lebih
cakap, sehingga terjadi interaksi-interaksi sosial yang dapat mengubah
atau mentransformasi pegalaman-pengalaman belajar. Lingkungan
sosial mempengaruhi kognisi melalui alat-alatnya (objek-objek kultural),
Bahasa, symbol dan instusi-instusi sosial. Pandangan ini juga merupakan bentuk
konstruktivisme dialektikal. Pendekatan pembelajaran yang
dipandang sesuai adalah dengan
pembelajaran kooperatif.
Terdapat dua
implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan. Pertama,
dikehendakinya setting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar
kelompok-kelompok siswa dengan kemampuan yang berbeda, sehingga siswa dapat
berinteraksi dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan
strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam daerah pengembangan
terdekat/proksimal masing-masing. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam
pembelajaran menekankan perancahan (scaffolding). Dengan scaffolding,
semakin lama siswa semakin dapat mengambil tanggung jawab untuk pembelajarannya
sendiri.
a. Pengelolaan pembelajaran
Interaksi
sosial individu dengan lingkungannya sengat mempengaruhi perkembanganbelajar
seseorang, sehingga perkemkembangan sifat-sifat dan jenis manusia akan
dipengaruhi oleh kedua unsur tersebut. Menurut Vygotsky dalam Slavin (2000),
peserta didik melaksanakan aktivitas belajar melalui interaksi dengan orang
dewasa dan teman sejawat yang mempunyai kemampuan lebih. Interaksi sosial ini memacu
terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual peserta didik.
b. Pemberian bimbingan
Menurut
Vygotsky, tujuan belajar akan tercapai dengan belajar menyelesaikan tugas-tugas
yang belum dipelajari tetapi tugas-tugas tersebut masih berada dalam daerah
perkembangan terdekat mereka (Wersch,1985), yaitu tugas-tugas yang terletak di
atas peringkat perkembangannya. Menurut Vygotsky, pada saat peserta didik
melaksanakan aktivitas di dalam daerah perkembangan terdekat mereka, tugas yang
tidak dapat diselesaikan sendiri akan dapat mereka selesaikan dengan bimbingan
atau bantuan orang lain.
Zona Perkembangan Proksimal (ZPD)
Konsep ini didefinisikan sebagai jarak antara level
perkembangan yang ditentukan melalui pemecahan masalah secara mandiri dan level
potensi perkembangan yang ditentukan oleh pemecahan masalah. ZPD ini lebih merupakan
sebuah tes dari kesiapan perkembangan siswa (level
intelektual) dalam bidang tertentu. Siswa akan dapat mempelajari konsep-konsep dengan baik jika
berada dalam ZPD. Siswa bekerja dalam ZPD jika siswa tidak dapat memecahkan
masalah sendiri, tetapi dapat memecahkan masalah itu setelah mendapat bantuan
orang dewasa atau temannya (peer).
Bantuan atau support dimaksud agar si anak mampu untuk mengerjakan tugas-tugas
atau soal-soal yang lebih tinggi tingkat kerumitannya dari pada tingkat
perkembangan kognitif si anak.
Aplikasi-Aplikasi
Ide Vygotsky banyak dimanfaatkan dalam
banyak aplikasi pendidikan. Aplikasi yang umum dipakai adalah konsep pemberian struktur penyangga pengajaran atau
pemberian bantuan pengajaran (instructional scaffolding). Aplikasi lainnya
adalah pengajaran timbal balik
(reciprocal teaching). Pengajaran timbal balik merupakan dialog interaktif
antara guru dengan sekelompok kecil siswa. Satu bentuk aplikasi lain yang juga penting
adalah kerja sama atau kolaborasi dengan teman
sebaya (peer collaboration). Sebuah aplikasi yang relevan dengan teori Vygotsky
dan dengan kognisi berkonteks adalah tuntunan sosial melalui praktik magang.
Masa Magang Kognitif (cognitif
apprenticeship).
Suatu proses yang menjadikan siswa
sedikit demi sedikit memperoleh kecakapan intelektual melalui interaksi dengan
orang yang lebih ahli (pakar), orang dewasa, atau teman yang lebih pandai.
TUTURAN
PRIBADI DAN PEMBELAJARAN DENGAN MEDIASI SOSIAL
Tuturan Pribadi atau Bergumam
(Private Speech)
Berguman
adalah berbicara dengan diri sendiri atau berbicara dalam hati untuk tujuan
membimbing dan mengarahkan diri sendiri. Menurut Vygotsky, private
speech dapat memperkuat interaksi sosial anak dengan orang lain. Private
speech dapat dilihat pada seorang anak yang dihadapkan pada suatu
masalah dalam sebuah ruangan di mana terdapat orang lain, biasanya orang
dewasa. Anak kelihatannya berbicara pada dirinya sendiri mengenai masalah
tertentu, tetapi pembicaraanya diarahkan pada orang dewasa. Private
speech kemudian dihalangi, tertangkap dan ditransformasikan ke dalam
proses berfikir.
Verbalisasi dan Prestasi
Verbalisasi sangat bermanfaat bagi
siswa yang sering mengalami kesulitan belajar memperhatikan materi dan
menguasai keterampilan, dan melakukan tugas dengan cara yang kurang mendukung. Verbalisasi
membantu siswa yang mengalami masalah-masalah pembelajaran untuk bekerja secara
sistematis.
Pembelajaran dengan Mediasi Sosial
Pembelajaran
dengan Mediasi Sosial ini lebih dikenal juga sebagai Pembelajaran Termediasi (mediated
learning). Vygostky menekankan pada scaffolding
atau tingkat pengetahuan. Menurutnya, scaffolding
ini siswa diberi masalah yang kompleks, sulit, dan realistik, dan kemudian
diberi bantuan secukupnya dalam memecahkan masalah siswa. Ini berarti memberikan kepada seorang individu
sejumlah bantuan besar selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian
mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut
mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah mampu mengerjakan
sendiri. Dorongan guru sangat dibutuhkan agar pencapaian siswa ke jenjang yang
lebih tinggi menjadi optimum. Bantuan yang diberikan pembelajar dapat berupa
petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang
memungkinkan siswa dapat mandiri. Dapat disimpulkan bahwa scaffolding, berarti upaya pengajar untuk membimbing siswa dalam
upayanya mencapai keberhasilan.
Vygotsky
mengemukakan tiga kategori pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan
permasalahan, yaitu (1) siswa mencapai keberhasilan dengan baik, (2) siswa
mencapai keberhasilan dengan bantuan, (3) siswa gagal meraih keberhasilan.
Kesimpulan
Teori
Vigotsky lebih menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari
pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurutnya, fungsi
kognitif manusia berasal dari interaksi social masing-masing individu dalam
konteks budaya. Vigotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa
bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut
masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona
of proximal development mereka.
MOTIVASI
Konstrukvisme
sebagaian besar merupakan teori perkembangan manusia pada tahun-tahun belakang
ini telah diaplikasikan dalam pembelajaran. Tidak banyak tulisan yang membahas
tentang peran motivasi dalam konstrukvisme. Konstrukvisme dapat diaplikasikan
pada motivasi, dan beberapa prinsip motivasi yang diteliti oleh para peneltian
dari pandangan-pandangan teoritis lain sangat sesuai dengan konstruktivisme
(Sivan, 1986).
Konstruktivisme
memberi penekanan pada kognisi berkonteks dan pentingnya memperhitungkan
konteks lingkungan untuk menjelaskan perilaku. Sebuah topik yang relavan dengan konstruktivisme adalah organisasi dan
struktur dari lingkungan-lingkungan pembelajaran; yaitu bagaimana para siswa
dikelompokan dalam pengajaran, bagaimana hasil belajar dievalusi dan dihargai,
bagaimana otoritas dibangun, dan bagaimana waktu dijadwalkan.
Sebuah
aspek penting dari organisasi adalah dimensionalitas (Rosenholtz&Simpson,
1984). Kelas yang tidak dimensional adalah kelas yang dimiliki sedikit
aktivitas yang hanya melibatkan cakupan yang berbatas untuk kemampuan-kemampuan
siswa. Kelas multidimensional memiliki lebih banyak aktivitas dan mengakomodir
keragaman dalam kemampuan dan kinerja belajar siswa.
Karakteristik-karakteristik
kelas yang mengindikasikan dimensional adalah terdapat pembedaan dalam struktur
tugas, otonomi siswa, pola-pola pengelompokan, dan menonjolnya
evaluasi-evaluasi kinerja belajar formal. Kelas yang tidak dimensional memiliki
sruktur tugas yang dibedakan.
Tabel
Karakteristik-karakteristik Dimensionalitas
|
Karakteristik
|
Tidak Dimensional
|
Multidimensional
|
|
Perbedaan
struktur tugas
|
Tidak
dibedakan; siswa mengerjakan tugas yang sama
|
Dibedakan;
siswa mengerjakan tugas yang berbeda-beda
|
|
Otonomi Siswa
|
Rendah; siswa
memliki sedikit pilihan
|
Tinggi; siswa
mempunyai banyak pilihan
|
|
Pola-pola
Pengelompokan
|
Seluruh kelas;
siswa dikelompokan berdasarkan kemampuan
|
Kerja
individual; siswa tidak dikelompokan berdasarkan kemampuan
|
|
Evaluasi-evaluasi
kinerja belajar
|
Siswa
mendapatkan nilai untuk tugas-tugas yang sama; nilai-nilai bersifat publik;
banyak perbandingan sosial
|
Siswa mendapat
nilai untuk tugas yang berbeda-beda, penilaian bersifat lebih tidak publik;
tidak banyak perbandingan sosial
|
Kelas
tidak dimensional ketika otonominya rendah; dan dapat menghalangi pengaturan
diri serta menekan motivasi. Kelas multidimensional memberikan lebih banyak
pilihan bagi siswa hal yang dapat meningkatkan motivasi.
Dalam
kelas yang tidak dimensional, prestasi belajar terlihat jelas (Rosenholtz,
1981). Hal ini dapat memotivasi siswa berprestasi tinggi untuk belajar, tetapi
kondisi ini sering menghasilkan efek negative pada siswa yang lainnya.
Kelas-kelas multidimensioanal cenderung memotivasi siswa karena kelas seperti
ini menyuguhkan lebih banyak pembedaan dan otomoni, lebih sedikit pengelompokan
berdasarkan kemampuan, dan lebih banyak fleksibilitas dalam penilaian selain
juga penilaian tidak bersifat publik.
Tabel
Faktor-Faktor Target yang Mempengaruhi Motivasi dan Pembelajaran
|
Faktor
|
Karakteristik
|
|
Tugas
|
Merancang
kegiatan-kegiatan belajar dan tugas-tugas
|
|
Otoritas
|
Kondisi dimana
siswa mendapat tanggung jawab untuk memimpin dan mengembangkan kemandirian
serta control aktivitas-aktivitas belajar
|
|
Pengakuan
|
Penggunaan
formal dan informal dari imbalan, insentif, maupun ujian
|
|
Pengelompokan
|
Individual,
kelompok kecil, kelompok besar
|
|
Evaluasi
|
Metode-metode
untuk memantau dan menilai pembelajaran
|
|
Waktu
|
Kesesuaian
beban kerja, ritme pembelajaran, waktu yang dialokasikan untuk menyelesaikan
tugas
|
1) Otoritas
mengacu pada apakah siswa siswa dapat tanggung jawab untuk memimpin dan
mengembangkan kemandirian serta control atas aktivitas-aktivitas belajar.
2) Pengakuan,
yang bermakna penggunaan formal dan informal dari imbalan, insentif, maupun
pujian, memiliki pengaruh-pengaruh penting terhadap pembelajaran yang
bermotivasi (Scchunk, 1995)
3) Dimensi
pengelompokan fokus pada kemampuan siswa untuk bekerja sama dengan para siswa
lainnya.
4) Evaluasi
mencangkup metode-metode untuk memantau dan menilai pembelajaran siswa,
misalnya mengevaluasi kemajuan individu dan penguasaan materi dari masing
masing siswa.
5) Waktu
merupakan karakteristik kesesuain beban kerja, ritme pelajaran, dan waktu yang
dialokasikan untuk menyelesaikan tugas (Epstein, 1989)
Teori-teori
Implisit
Teori
implisit tentang persoalan-persolan seperti bagaimana mereka belajar, apa saja
yang dapat membantu prestasi belajar disekolah dan bagaimana motivasi
mempengaruhi kinerja belajar. Teori-teori implisit tentang proses-proses
seperti belajar, berpikir, dan kemampuan, mempengaruhi bagaimana siswa terlibat
dalam pembelajaran dan pandagan-pandangan mereka tentan apa yang dapat
membuatnya berhasil di dalam dan di luar kelas. Teori implisit dapat
memengaruhi cara siswa memproses informasi. Teori implisit cenderung berbentuk
ketika anak-anak menghadapi pengaruh-pengaruh sosial. Hal-hal yang juga
penting dalam hal ini adalah bagaimana
anak-anak menyempurnakan, memadukan, dan mengembangkan pemahaman konseptual
mereka sebagai sebuah fungsi pengalaman.
Harapan-Harapan
Guru
Harapan
yang dimiliki guru terhadap siswa dapat memberikan pengaruh positif ataupun
negative bagi siswa. Pratik-pratik ini dapat membantu mencegah efek-efek negatif
dari harapan:
a. Menerapkan
aturan-aturan secara adil dan kosinten
b. Anggap
semua siswa mampu belajar dan sampaikan harapan tersebut kepada mereka.
c. Jangan
membeda-bedakan harapan untuk siswa berdasarkan hal-hal yang tidak terkait
dengan kinerja belajar.
d. Jangan
menerima alasan-alasan untuk hasil kerja yang buruk.
e. Sadari
bahwa batas-batas dari kemampuan siswa tidak diketahui dan relavan dengan
pembelajaran di sekolah.
LINGKUNGAN-LINGKUNGAN PEMBELAJARAN
KONSTRUKTIVIS
Dalam kelas konstruktivis kurikulumnya
difokuskan pada konsep-konsep besar. Aktivitas-aktivitasnya biasanya mencakup
sumber-sumber data primer dan materi-materi manipulative. Guru berinterksi
dengan siswa dengan menarik pertanyaan dari mereka dan sudut pandang mereka. Prinsip-Prinsip
Penuntun untuk lingkungan-lingkungan pembelajaran konstruktivis:
· Menghadirkan
masalah-masalah yang semakin kuat relevansinya kepada siswa
· Menyusun
pembelajaran di seputar konsep-konsep pokok
· Mencari
tahu dan menghargai sudut pandang siswa
· Mengadaptasi
kurikulum untuk memerhatikan asumsi-asumsi siswa
· Menilai
pembelajaran siswa dalam konteks pengajaran
Beberapa prinsip penuntun untuk lingkungan-lingkungan
pembelajaran konstruktivis dalam table diatas:
a. Guru
harus menghadirkan masalah-masalah yang semakin jelas relevansinya untuk siswa
dimana relevansinya telah ada sebelum atau timbul melalui mediasi guru.
b. Pembelajaran
harus disusun disekitar konsep-konsep pokok
c. Mencari
tahu dan menghargai sudut pandang siswa.
d. Mengadaptasi
kurikulum untuk memperhatikan asumsi-asumsi siswa.
e. Pendidikan
konstruktivis menghimbau agar kita menilai pembelajaran siswa dalam konteks
pengajaran.
Prinsip-Prinsip
Pembelajaran Berbasis siswa a la APA
Prinsip
ini dikelompokan menjadi empat kategori utama: faktor-faktor kognitif dan
metakognitif, faktor-faktor motivasional dan efektif, faktor-faktor
perkembangan dan sosial, dan perbedaan-perbedaan individu. Faktor-faktor
kognitif dan metakognitif meliputi sifat dari proses pembelajaran,
tujuan-tujuan pembelajaran, kontruksi pengetahuan, pemikiran strategis,
berpikir tentan pikiran dan muatan pembelajaran. Faktor-faktor motivaasional
dan efektif mencerminkan pengaruh motivasional dan emosional terhadap
pembelajaran, motivasi intrinsic untuk belajar, dan efek-efek motivasi terhadap
usaha.
Aplikasi-Aplikasi
dalam Pengajaran
Belajar-Menemukan
Proses
penemuan. Belajar menemukan mengacu pada penguasan pengetahuan untuk diri
sendiri (Bruner, 1961). Penemuan melibatkan perumusan dan pengujian hipotesis,
bukan sekedar membaca dan mendengarkan guru menerangkan. Penemuan adalah sebuah
tipe penalaran induktif karena siswa bergerak dari mempelajari contoh-contoh
spesifik ke merumuskan aturan-aturan, konsep-konsep dan prinsip umumnya.
Mengajarkan
Penemuan. Mengajarkan penemuan memerlukan pengajuan pertanyaan-pertanyaan,
permasalahan-permasalahan, atau situasi-situasi yang membingunkan untuk
diselesaikan dan dorongan bagi para siswa untuk membuat tebakan-tebakan jawaban
yang intuitif jika mereka tidak yakin.
Pembelajaran
Berbasis Penelitian
Pembelajaran
berbasis penelitian adalah bentuk belajar menemukan, meskipun tipe ini dapat
disusun supaya mencakup lebih banyak arahan guru (Collins, 1997).
Tujuan-tujuannya adalah mendorong siswa mengunakan nalarnya, memperoleh prinsip
umum dan mengaplikasikannya pada situasi baru, dalam mengimplementasikan model
ini guru berulang-ulang memberikan pertanyaan kepada siswa.
Pembelajaran
dengan bantuan teman sebaya
Pembelajaran
dengan bantuan teman sebaya mengacu pada pendekatan-pendekatan pengajar dimana
teman sebaya pelaku aktif dalam proses pembelajran (Rohbeck, 2003).
Pembelajaran dengan bantuan teman sebaya paling efektif diterapkan pada anak-anak
yang lebih muda, tinggal diperkotaan, berpendapatan rendah, dan dari kelompok
minoritas.
Diskusi
atau Debat
Diskusi
kelas akan bermanfaat ketika tujuan adalah mendapatkan pemahaman konsep yang
tinggi atau berbagai sisi pembahasan dari topic. Topic yang dihasilkan diskusi
adalah topic dimana tidak ada jawaban yang jelas benar, tetapi lebih melibatkan persoalan yang kompleks atau
kontroversal.metode diskusi sesuai untuk berbagai disiplin ilmu seperti sejarah,
ilmu pengetahuan, dan ekonomi.
Pengajaran
Reflektif
Pengajaran
reflektif didasarkan pada pengambilan keputusan yang cermat yang
memperhitungkan pengethuan tentang siswa, kontek, proses-proses psikologi,
pembelajaran dan motivasi dan pengetahuan tentang diri sendiri.
Komponen-Kompenen dari Keputusan-Keputusan
Pengajaran Reflektif:
· Peka
terhadap konteks
· Ditutun
oleh perencanaan yang fleksibel.
· Didukung
oleh pengetahuan professional.
· Ditunjang
oleh kesempatan-kesempatan pengembang profesi formal dan informal.
Menjadi
seorang guru yang reflektif adalah sebuah keterampilan, dan seperti
keterampilan-keterampilan lainnya, keterampilan ini membutuhkan pengajaran dan
praktik. Saran-saran ini berguna untuk pengembangan keterampilan ini:
· Seorang
guru yang reflektif membutuhkan pengetahuan personal yang baik.
· Guru
yang reflektif memerlukan pengetahuan professional.
· Pengajaran
terdiri dari perencanaan dan penilaian.
Post a Comment