Header Ads

CONTOH PROPOSAL SKRIPSI "PENGARUH MODEL PEMBELAJARANKONSTRUKTIVISME TERHADAP KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF SISWA DALAM PEMBELAJARAN DI SMK ADMINISTRASI PERKANTORAN (MENGELOLA PERTEMUAN RAPAT)"

PENGARUH MODEL PEMBELAJARANKONSTRUKTIVISME TERHADAP KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF SISWA DALAM PEMBELAJARAN DI SMK ADMINISTRASI PERKANTORAN (MENGELOLA PERTEMUAN RAPAT)



A.    Latar Belakang

Dalam pendidikan, belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, belajar menunjukkan apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran (sasaran didik), sedangkan mengajar menunjukkan apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar. (Sabri, 2005, hal. 33)
Sekolah sebagai lembaga formal, sudah seharusnya mulai menerapkan paradigma baru dalam pendidikan. Seperti gaya mengajar, pendekatan, strategi, ataupun metode bealajar yang lebih efektif. Hal tersebut sangat berarti, karena lembaga formal ini sangat diharapkan peranannya dalam membentuk sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan berguna bagi agama, bangsa dan Negara.
Dalam pendidikan di abad 21 ini salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan formal adalah masih rendahnya kemampuan memahami pelajaran. Hal ini dikarenakan kondisi pembelajaran masih bersifat konvensional atau guru masih mendominasi dan tidak memberikan akses bagi siswa untuk berkembang secara mandiri melalui proses berpikirnya.(Trianto, 2007, hal. 1)
Pada kenyataannya pendidikan formal juga masih menekankan kepada pemikiran yang tidak produktif, memakai sitem hapalan, dan mencari satu jawaban yang benar saja ketika diberi soal atau tugas. Akbitanya, kreativitas siswa pun dapat terhambat. Proses pemikiran yang tinggi termasuk berpikir kreatif jarang sekali dilatih. Sehingga pembelajaran seperti ini dapat menimbulkan kekakuan dalam proses berpikir dan kurang luas dalam meninjau suatu masalah.
Pada dasarnya manusia diberi kemampuan untuk berpikir dan memiliki potensi untuk menciptakan berbagai hal yang memberikan arti bagi suatu kehidupan. Bakat dan kreatif itu dimiliki oleh setiap orang, karena sertiap orang memiliki kecendurungan atau dorongan untuk mewujudkan potensinya.
Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk mulai belajar mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dalam diri kita. Dimana, untuk dapat memupuk, mengembangkan serta meningkatkan kemampuan berpikir tesebut, perlu diciptakan lingkungan yang kreatif juga. Lingkungan disini maksudnya orangtua, guru, teman, maupun masyarakat yang harus memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya.
Dalam pendidikan, guru merupakan salah satu faktor pendorong yang penting untuk meningkatkan kreativitas siswa disekolah. Banyak hal yang dapat dilakukan guru untuk merangsang dan meningkatkan daya pikir siswa, sikap dan perilaku kreatif siswa. Diantaranya melalui model pembelajaran yang kreatif, yakni model mengajar yang dilakukan untuk mengembangkan kreativitas siswa.
Salah satu model yang sering digunakan oleh guru adalah modelpembelajaran humanistik saja, dimana model ini bersifat kaku, kompetitif dan satu arah (hanya terjadi proses stimulus dan respon). Sehingga membuat anak menjadi bosan dan tidak diberikan kesempatan untuk berkreasi. Model lain yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran yaitu model konstruktivisme. Model konstruktivisme ini merupakan strategi yang pembelajarannya berpusatkan kepada siswa. Dimana siswa dapat mengolah atau mengatur ingatan jangka panjangnya tentang suatu konsep melalui penglibatan yang aktif dalam mengaitkan pengetahuan yang diterimanya dengan pengetahuan yang ada sebelumnya untuk menemukan pengetahuan yang baru (discovery learning).
Menurut pandangan konstruktivistik belajar merupakan suatu proses pembentukan pngetahuan. Dimana, pembentukan ini harus dilakukan oleh individu yang belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri. Dengan istilah lain dapat dikatakan bahwa pada hakikatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada siswa.(Joyce, 2009)
Dalam hal ini sangat penting bahwa siswa dimungkinkan untuk mencoba bermacam-macam cara belajar yang cocok dan juga penting bahwa guru menciptakan bermacam-macam situasi dan metode yang membantu siswa.
Dari perspektif konstruktivisme ini, siswa perlu membangun pengetahuannya sendiri, terlepas dari bagaimana mereka belajar. Maka dari itu model pembelajaran konstruktivisme diharapkan dapat mengantarkan siswa dalam membangun pemahamannya tentang mata pelajaran Produktif di SMK Administrasi Perkantoran, khususnya materi tentang Mengelola Pertemuan Rapat.
Setelah dikemukakan penjelasan mengenai kurangnya siswa berpikir kreatif dalam kegiatan pembelajaran, serta model pembelajaran konstruktivisme dalam proses pembelajarannya yang dimana siswa harus berperan aktif dalam proses pembealjarannya. Maka penulis tertarik untuk meneliti apakah ada pengaruhnya ketika model pembelajaran yang dipakai model konstruktivisme terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa dalam mata pelajaran Produktif.Oleh karena itu penulis mengangkat judul “Pengaruh Model Pembelajaran Konstruktivisme terhadap Kemampuan Berfikir Kreatif Siswa dalam Mata Pelajaran Produktif di SMK Administrasi Perkantoran (Mengelola Pertemuan Rapat)”.

B.     Identifikasi Masalah

Berdasakan latar belakang yang sudah dikemukakan diatas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah yang muncul, antara lain:
1.      Rendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa dalam mata pelajaran produktif (mengelola pertemuan rapat).
2.      Model mengajar yang guru terapkan masih kurang dalam mengaktifkan siswa dikelas.
3.      Model mengajar yang guru pakai, kurang berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.

C.    Rumusan Masalah

Mengingat luasnya permasalahan yang telah diungkapkan maka perlu dibatasi, diantaranya adalah :
1.      Model pembelajaran yang digunakan adalah model konstruktivisme.
2.      Kemampuan berpikir kreatif siswa yang akan di teliti adalah kemampuan berpikir kreatif siswa secara verbal pada mata pelajaran produktif administrasi perkantoran yaitu materi tentang mengelola pertemuan rapat.
Dari masalah yang telah dibatasi maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti sebagai berikut : Apakah terdapat pengaruh antara model pembelajaran konstruktivisme dalam mata pelajaran produktif terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa di kelas XI SMK Administrasi Perkantoran.

D.    Tujuan

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk memperoleh pengetahuan dan melakukan kajian secara ilmiah tentang pengaruh model pembelajaran konstruktivisme dalam mata pelajaran produktif terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa di kelas XI SMK Administrasi Perkantoran.
Secara khusus, tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahuai bagaimana gambaran model pembelajaran yang diterapkan di SMK Administrasi Perkantoran.
2.      Mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif siswa di kelas XI pada mata pelajaran Produktif materi mengelola pertemuan rapat di SMK Administrasi Perkantoran.
3.      Mengetahui apakah ada pemgaruh model pembelajaran yang diterapkan di SMK dengan berpikir kreatif siswa.

E.     Manfaat

Jika tujuan penelitian yang dikemukakan di atas dicapai, penelitian ini akan memberikan dua macam kegunaan, yaitu kegunaan teoritis dan kegunaan praktis. Dimana, kegunaan teoritis dari hasil penelitian ini memberikan sumbangan bagi Sekolah Menengah Kejuruan jurusan Administrasi Perkantoran. Temuan-temuan ini bisa di jadikan bahan pengembangan teoritik, sehingga dapat melahirkan kembali temuan ilmiah yang lebih produktif.
Secara praktis, hasil penelitian ini diantaranya berguna sebagai bahan infromasi bagi pendidik yang mengajar di SMK jurusan Administrasi Perkantoran, bahwa model pembelajaran yang cocok untuk mengukur tingkat kemampuan kreatif siswa yaitu menggunakan model pembelajaran konstruktivisme. Sebagai bahan masukan bagi para guru dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan model pembelajaran yang baik digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Dan sebagai bahan bagi pembaca atau pihak lain yang membutuhkan informasi dan data yang relevan dari hasil penelitian, khususnya mengenai pengaruh model pembelajaran kostruktivisme terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.

F.     Landasan Teori

1.      Konstruktivisme

a.       Pengertian Konstruktivisme

Konstruktivisme adalah aliran filsafat pengetahuan yang berpendapt bahwa pengetahuan (knowlagde) merupakan hasil konstruksi (bentukan) dari orang yang sedang belajar. Maksudnya setiap orang membentuk pengetahuannya sendiri. Kukla (2003:12) secara tegas menyatakan bahawa sesungguhnya setiap orang adalah konstruktivis. Pengetahuan bukanlah “sesuatu yang sudah ada disana”dan tinggal mengambilnya, tetapi merupakan suatu bentukan terus menerus dari orang yang belajar dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena pemahaman yang baru. (Adisusilo, 2013, hal. 161)
Teroi konstruktivisme berkembanag dari teori Kognitif Piaget dan teori bermakna Ausubel. Teori konstruktivisme adalah suatu aliran filsafat pengetahuan yang mengatakan bahwa kita yang membentuk pengetahuan secara aktif berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang ada.(Suparno, 2001, hal. 38)
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan kontekstual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.(Trianto, 2007, hal. 113)
Sebagai teori belajar, konstruktivisme menyebutkan bahwa pengetahuan seseorang tidak bertambah terus saja, tetapi manusia terus membangun kembali (reconstruct) pengetahuannya. Paul Suparno (2001 : 62) mengungkapkan bahwa “Menurut konstruktivisme, pelajar sendirilah yang bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Mereka membawa pengertian yang lama dalam situasi yang baru. Mereka sendiri yang membuat penalaran atas apa yang telah dipelajarinya dengan cara yang ia perlukan dalam pengalaman baru”.
Menurut Betterncourt, Shymansky, Watt & Pope yang dikutip Paul Suparno, mengemukakan bahwa : “Bagi konstruktivisme kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, dimana pelajar membangun sendiri pengetahuannya. Pelajar mencari arti sendiri dari apa yang mereka pelajari. Ini merupakan proses menyesuaikan konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dalam fikiran mereka” (Suparno, 2001, hal. 62)
Pola pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme secara garis besar terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut :
1)      Invitation ialah dimana guru memanfaatkan struktur kognitif yang telah ada pada siswa untuk membahas konsep-konsep sehingga siswa tergugah motivasinya untuk belajar.
2)      Eskplorasi ialah menyangkut interaksi siswa dengan lingkungan alam atau lingkungan fisik di sekitarnya. Dalam tahap ini guru bertindak sebagai fasilitator agar siswa secara aktif menggunakan konsep-konsep baru.
3)      Solusi atau eksplorasi ialah di mana siswa dihadapkan pada situasi masalah yang menyangkut konsep atau prinsip yang baru diterimanya untuk menyelesaikan masalah yang diberikan atau dihadapi.
4)      Tindak lanjut ialah di mana siswa mengembangkan sikap dan perilaku untuk berkembang lebih jauh.
5)      Ekspansi ialah di mana siswa diminta untuk belajar sendiri berbagai aplikasi dan perluasan berbagai konsep dan prinsip yang telah dipelajari.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar pada model konstruktivisme siswa sendiri yang aktif secara mental membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang telah dimilikinya. Guru lebih bersifat sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Penekanan dalam belajar mengajar lebih berfokus pada suksesnya siswa dalam memahami atas apa yang dilakukan.

b.      Prinsip Pembelajaran Konstruktivisme

Salah satu faktor yang paling utama dalam pembelajaran konstruktivisme adalah pengajaran dan pembelajaran yang berpusatkan pada siswa. Pengetahuan yang dimiliki oleh siswa merupakan hasil dari aktivitas yang dilakukan oleh siswa tersebut dan bukan pengejaran yang diterima secara pasif.
Adapun menurut caine dan caine (1991), pembelajaran konstruktivisme mempunyai 12 prinsip dasar, antara lain (Hermawati, 2007):
1)      Otak adalah alat yang paling utama. Karena ia memproses banyak jenis ide termasuk pikiran, emosi, dan pengetahuan budaya.
2)      Pembelajaran melibatkan keseluruhan fisiologis. Guru tidak boleh menitikberatkan keapada kemampuan intelektual saja.
3)      Usaha dalam mencari pengetahuan bersifat personal dan unik. Hal ini terjadi karena pemahaman siswa dibangun sendiri dan didasari oleh pengalaman uniknya.
4)      Pembelajaran yang efektif adalah saling menghubungkan antara ide dan kegiatan dengan suatu konsep dan tema yang global.
5)      Emosi adalah faktor kritis dalam pembelajaran. Pembelajaran hendaknya dipengaruhi oleh emosi, perasaan, dan sikap.
6)      Kemampuan otak memproses sebagian kecil sampai keseluruhannya secara bersamaan sehingga tidak terjadi suatu masalah.
7)      Pembelajaran melibatkan perhatian yang terfokus dan persepsi dari lingkungan, kebudayaandan iklim.
8)      Pembelajaran melibatkan proses secara sadar dan tidak sadar. Siswa membutuhkan waktu untuk memproses “apa”dan “bagaimana”isi pelajarannya.
9)      Terdapat sekurang-kurangnya dua jenis ingatan, yakni sistem ingatan ruang dan sistem ingatan untuk pembelajaran hapalan. Pengajaran yang terlalu mengutamakan pembelajaran hapalan tidak dapat memajukan pembelajaran ruang dan pembelajaran yang berasaskan pengalaman sehingga pemahaman siswa menjadi terhambat dan tidak menyeluruh.
10)  Pembelajaran yang menitikberatkan terhadap eksperimen adalah paling efektif.
11)  Pembelajaran dengan penguatan. Penguatan tidak selalu hal yang menggembirakan, tetapi bisa juga sebaliknya. Hal ini diterapkan kepada siswa disesuaikan dengan situasi pembelajaran yang ada, dimana penguatan ini juga tidak membuat siswa menjadi tertekan.
12)  Setiap otak adalah unik dan berbeda. Pembelajaran haruslah diimplementasikan kepada siswa sehingga siswa dapat membangun pemikirannya masing-masing.

c.       Peranan Guru dan Siswa dalam Pembelajaran Konstruktivisme

1)      Peranan Siswa
Peranan siswa, menurut pandangan konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa. Ia harus aktif melakukan kegiatan aktif berfikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari.
Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksikan pengetahuan yang baru. Oleh karena itu meski kemampuan awal tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan. (Budiningsih, 2009, hal. 58-59).
Menurut teori ini, bahwasanya memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Dan guru hanya sebagai fasilitator saja atau sebagai prakarsa dalam menata lingkungan yang memberikan peluang optimal bagi siswa dalam proses pembelajaran. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kendali belajar sepenuhnya ada pada siswa.
2)      Peranan Guru
Peranan guru dalam teori konstruktivisme, berperan membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya. Melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri.  Di sini guru dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemaunnya. (Budiningsih, 2009, hal. 59)
Dalam teori konstruktivistik seorang guru hanya berperan sebagai fasilitator yang mana, guru sebisa mungkin menumbuhkan kemandirian siswa dengan cara menyediakan kesempatan siswa untuk mengambil keputusan dan bertindak, dan bagaimana cara menumbuhkan ketrampilan siswa dan menyediakan siswa sistem dukungan yang memberikan kemudahan dalam belajar agar mempunyai peluang belajar secara optimal.
Menurut prinsip pembelajaran konstruktivistik, seorang pengajar atau guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik yaitu;
a)          Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggungjawab, memberi pelajaran atau ceramah bukanlah tugas utama seorang guru.
b)          Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka, menyediakan sarana secara produktif menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung proses belajar siswa. Guru perlu menyemangati siswa dan menyediakan pengalaman konflik.
c)          Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa  berjalan atau tidak. Guru mempertanyakan apakah pengetahuan siswa dapat diberlakukan untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan. Guru membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan siswa.
3)      Sarana Belajar
Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, peralatan, lingkungan dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya sendiri tentang sesuatu yang dihadapi. Dengan cara demikian siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berfikir kritis, kreatif, dan mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional.
4)      Evaluasi Belajar
Pandangan konstruktivistik  mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pengalaman. Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang. Evaluasi belajar pada pandangan konstruktivistik menggunakan goal free evaluation, yaitu suatu konstruksi untuk mengatasi kelemahan evaluasi pada tujuan spesifik. Hasil belajar konstruktivistik lebih tepat dinilai dengan metode goal free.
Evaluasi yang digunakan  untuk menilai hasil belajar konstruktivistik memerlukan proses pengalaman  kognitif bagi tujuan konstruktivistik. Bentuk-bentuk evaluasi konstruktivistik dapat diarahkan pada tugas-tugas autentik, mengkontruksi pengetahuan yang menggambarkan proses berfikir yang lebih tinggi seperti penemuan, juga sintesis dan mengarahkan evaluasi pada konteks yang luas dengan berbagai perspektif.

d.      Proses Pembelajaran Konstruktivisme di Kelas

Berdasarkan paparan kajian teori diatas mengenai apa itu teori kontruktivisme, selanjutnya akan di implementasikan teori ini di kelas mata pelajaran  mengelola pertemuan rapat. Adapun beberapa penerapannya adalah:
1)      Mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar
a)      Awal pembelajaran dikelas siswa diberikan salinan materi tentang ruang lingkup pengelolaan rapat, mencakup; (1) pengertian rapat,(2) tujuan rapat, (3) jenis-jenis rapat, (4) unsur-unsur rapat, (5) teknik penyelenggaraan rapat, (6) identifikasi keperluan rapat, (7) macam-macam tata-tata ruang rapat, yang mana telah disiapkan sebelumnya.
b)      Kemudian dilanjutkan dengan simulasi video yang ditanyangkan di infocus tentang rapat. Dari video ini guru mendorong siswa untuk berpikir mandiri, bagaimana proses rapat dari awal sampai selesai.
c)      Dari video yang telah ditampilkan siswa membuat beberapa kesimpulan dan menjadikannya pertanyaan kemudian menganalisis serta mengembangkan proses belajar mereka sendiri.
2)      Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan beberapa waku kepada siswa untuk merespon
a)      Setelah siswa selesai menyaksikan videoyang ditampilkan mengenai pengelolaan rapat, kemudian guru mengajukan beberapa pertanyaan (contoh: mengenai tata ruang rapat yang dipakai, jenis rapat yang sedang berlangsung, dll).
b)      Dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan cara siswa meresponatau menjawab pertanyaannya, maka akan mendorong siswa untuk membangun keberhasilan dalam melakukan penyelidikan bagaimana pengelolaan rapat itu.
3)      Mendorong siswa untuk berpikir aktif
a)      Guru yang menerapkan proses pembelajaran kontruktivisme akan menantang para siswa untuk mampu menjangkau hal-hal yang baru, dimana proses jangkauan tersebut dibantu dengan pengalaman sebelumnya atau pengetahuan yan sebelumnya sudah mereka miliki.
b)      Dengan proses pembelajaran kontruktivisme juga guru mendorong untuk menghubungkan dan mmerangkum konsep-konsep melalui analisis, prediksi, dan mempertahankan gagasan-gagasan atau pemikirannya. Sebagai contoh menganalisis video yang tadi telah ditampilkan dengan salinan materi yang telah diberikan.
4)      Siswa terlibat secara aktif dalam dialog diskusi dengan guru dan siswa lainnya
a)      Kemudian guru menjelaskan kembali tanya jawab yang telah berlangsung sebelumnya dengan cara menampilkan power point. Agar siswa tidak salah dalam mengimplmentasikannya.
b)      Setelah selesai memberikan penjelasan ulang. Guru memberikan tugas untuk membagi siswa kedalam beberapa kelompok yang bertujuan untuk melakukan simulasi rapat dari awal sampai akhir.
5)      Guru memberikan data mentah, sumber-sumber utama, dan materi interaktif
a)      Setelah melakukan pembagian kelompok acak, guru memberikan beberapa intruksi atau perintah bagaimana proses rapat tersebut (siswa diberikan soal bagaimana proses rapat berlangsung).
b)      Tujuan dilakukan praktek penyelenggaraan rapat ini didukung teori pembeljaran kontruktivisme dimana siwa dituntut mampu mengembangkan pengetahuan yang baru di dapat dan dihubungkan dengan pengetahuan yang sebelumnya dimiliki oleh siswa.
c)      Peran guru yaitu sebagai fasilitator.
d)     Setelah selesai melakukan praktek peran guru yaitu sebagai evaluator.

2.      Berpikir Kreatif Siswa

a.       Konsep Berpikir Kreatif

Berpikir asal katanya adalah pikir. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kemendiknas, 2007, hal. 872) , pikir berarti akal budi, ingatan, angan-angan, pendapat atau pertimbangan. Berpikir artinya menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu, serta menimbang-nimbang dalam ingatan. Sedangkan para ahli psikologi kognitif memandang berpikir merupakan kegiatan memproses informasi secara mental atau secara kognitif. Berpikir dianggap sebagai proses penyusunan ulang atau manipulasi kognitif baik informasi dari lingkungan maupun simbol- simbol yang disimpan dalam memori jangka panjang, maka dari itu, berpikir diartikan sebagai sebuah representasi simbol dari beberapa peristiwa atau item (Khodijah, 2006, hal. 117). Jika dikaitkan dengan pemecahan masalah, berpikir merupakan sebuah proses mental yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan seperti menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian lainnya dalam sistem kognitif yang diarahkan untuk menghasilkan solusi dalam memecahkan masalah.
Kreatifitas bukanlah suatu kata-kata mutiara yang eksklusif untuk sesuatu yang asing bagi manusia, kreatifitas justru merupakan suatu sisi dari manusia yang menandai “manusianya” seseorang. Karena dengan kreatifitas inilah manusia dapat berada pada kemajuan di beberapa bidang kehidupan. Seperti yang sering diungkapkan para pakar, setiap orang adalah kreatif walaupun dengan tingkat yang berbeda atau dengan cara pengekspresian yang berbeda.
Buzan (2004:25) dalam bukunya The Power of Creative Intelligence Sepuluh Cara Jadi Orang yang Jenius Kreatif menjelaskan pengertian dari Creative Intelligence atau Kecerdasan Kreatif. Creative Intelligence (Kecerdasan Kreatif) adalah kemampuan kita memunculan ide-ide baru, menyelesaikan masalah dengan cara yang khas, dan untuk lebih meningkatkan imajinasi, prilaku, dan produktivitas kita.
Filsaime (2008:16) mengutip pendapat dari Torrance tentang perngertian berpikir kreatif dalam bukunya Menguak Rahasia Berpikir Kritis dan Kreatif  bahwa berpikir kreatif adalah “Sebuah proses menjadi sensitif pada atau sadar akan masalah- masalah, kekurangan, dan celah-celah di dalam pengetahuan yang untuknya tidak ada solusi yang dipelajari; membawa serta informasi yang ada dari gudang memori atau sumber-sumber eksternal; mendefinisikan kesulitan atau mengidentifikasi unsur-unsur yang hilang; mencari solusi-solusi; menduga, menciptakan alternatif- alternatif untuk menyelesaikan masalah, menguji kembali alternatif tersebut; menyempurnakannya dan akhirnya mengkomunikasikan hasil-hasilnya”.
Menurut Asmani (2014:2) berpikir kreatif adalah kemampuan (berdasarkan data dan informasi yang tersedia) untuk memberikan gagasan-gagasan baru dengan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang menekankan segi kuantitas, ketergantungan, keragaman jawaban, dan menerapkan dalam pemecahan masalah.
Berpikir kreatif mengggunakan dasar proses berpikir untuk mengembangkan atau menemukan ide atau hasil yang asli, estetis dan konstruktif yang berhubungan dengan pandangan dan konsep serta menekankan aspek berpikir intuitif dan rasional, khususnya dalam menggunakan informasi dan bahkan untuk memunculkan atau menjelaskan dengan perspektif asli pemikir.
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental yang digunakan seseorang untuk membangun ide atau gagasan baru dari kumpulan ingatan yang berisi berbagai ide, keterangan, konsep, pengalaman dan pengetahuan. Berpikir kreatif merupakan suatu proses yang digunakan ketika seseorang mendatangkan atau memunculkan ide baru, sedangkan kreativitas merupakan produk berpikir kreatif.

b.      Karakteristik Siswa yang Kreatif

Kemampuan berpikir kreatif merupakan kemampuan seseorang dalam menemukan gagasan atau ide baru dalam memecahkan permasalahan dengan menggunakan pengalaman sebelumnya yang telah mereka miliki.Pada dasarnya para ahli memliki pandangan yang sama tentang karakteristik dari kemampuan berpikir kreatif. Namun, untuk memberikan kejelasan dan pemahaman yang sesuai, maka peneliti akan memaparkan empat karakteristik umum yang nantinya akan menjadi indikator yang akan digunakan dalam penelitian ini, antara lain:
1)      Keterampilan berpikir lancar (Fluency) Keterampilan berpikir lancar (fluency) di sini termasuk dalam mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah atau pertanyaan. Memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal serta selalu memikirkan lebih dari satu jawaban. Ini mungkin merupakan salah satu indikator yang paling kuat dari berpikir kreatif, karena semakin banyak ide, maka semakin besar kemungkinan yang ada untuk memperoleh sebuah ide yang signifikan.
2)      Keterampilan berpikir luwes (Flexibility) Fleksibilitas adalah kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan mental, mengubah pendekatan untuk sebuah masalah. Tidak terjebak dengan mengasumsikan aturan-aturan atau kondisi-kondisi yang tidak bisa diterapkan pada sebuah masalah. Sehingga siswa dapat menerapkan suatu konsep atau suatu asas dengan cara yang berbeda-beda.
3)      Keterampilan berpikir orisinil (Originality) Katagori orisinalitas mengacu pada keunikan dari respon apa pun yang diberikan. Orisinalitas yang ditunjukkan oleh sebuah respon yang tidak biasa, unik dan jarang terjadi sehingga mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4)      Keterampilan merinci (Elaboration) Kemampuan untuk menguraikan sebuah objek, gagasan, atau situasi tertentu secara mendetail sehingga menjadi sesuatu yang lebih menarik. 

c.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas Siswa

Pada mulanya, kreativitas dipandang sebagai faktor bawaan yang hanya dimiliki oleh individu tertentu. Dalam perkembangan selanjutnya, ditemukan bahwa kreativitas tidak berkembang secara otomatis tetapi membutuhkan rangsangan dari lingkungan. Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas adalah :
Utami Munandar mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas adalah(Asrori, 2011, hal. 53):
1)      Usia
2)      Tingkat pendidikan orang tua
3)      Tersedianya fasilitas
4)      Penggunaan waktu luang
Lehmen memberikan gambaran mendasar tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas anak. Faktor-faktor tersebut antara lain (Suryadi, 2014, hal. 95-96):
1)      Faktor lingkungan rumah
Di rumah banyak kondisi-kondisi yang mempengaruhi perkembangan kreativitas anak. Rumahlah yang dianggap sebagai lingkungan pertama yang membangkitkan kemampuan alamiah anak untuk bersikap kreatif.
Untuk itu penting bagi orang tua menyadari bahwa setiap anak memiliki kepribadian yang unik, pribadi yang mempunyai minat dan bakat yang berbeda-beda. Tanggung jawab orang tua adalah mengenal potensi anaknya dan dapat menciptakan suasana di dalam keluarga yang dapat memupuk perwujudan bagi anaknya.
2)      Faktor lingkungan sekolah
Sekolah kerap kali lebih banyak memberikan penghargaan pada berpikir konvergen daripada berpikir divergen. Dengan cara seperti ini tentunya dapat menghambat kreativitas berpikir anak. Untuk itu pembelajaran-pembelajaran di sekolah harus dibuat sedemikian rupa agar anak dapat berpikir secara holistik dan dapat diperkaya dan memberi makna pada perkembangan kreativitasnya.
3)      Faktor lingkungan sosial
Berkaitan dengan kondisi masyarakat yang ada, sikap mereka yang kurang mendukung sikap kreatif anak dan kurang memberikan penghargaan pada usaha-usaha kreativitas merupakan salah satu hal yang dapat menghambat munculnya kreativitas. Untuk itu orang tua, pendidik dan masyarakat harus menyediakan suasana yang kondusif dalam upaya pengembangan kreativitas anak.
4)      Faktor keuangan
Anak-anak yang berasal dari latar belakang status ekonomi sosial tinggi cenderung lebih kreatif daripada yang berasal dari status ekonomi rendah, karena mereka mempunyai fasilitas yang dapat menunjang perkembangan kreativitasnya.
5)      Kurangnya waktu luang
Orang tua yang selalu mengawasi anak saat bermain, terlalu khawatir, menuntut kepatuhan, terlalu banyak melontarkan kritik pada anak dan jarang memuji hasil kreativitas anak adalah sebuah lingkungan yang memberi kebebasan untuk mengungkapkan diri, mengungkapkan pikiran dan perasaannya tanpa takut dicela, ditertawakan atau dihukum. Kalau segala ungkapan itu diterima dan dihargai oleh orang tua, anak akan cenderung mengulanginya, kemudian menjadikannya pola perilaku yang mampu mendorong bakat kreatifnya.

d.      Cara Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa

Proses pembelajaran pada hakekatnya adalah mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Namun dalam pelaksanaannya seringkali kita tidak sadar, bahwa masih banyak kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan justru menghambat aktivitas dan kreativitas peserta didik. Menurut Suryadi untuk mengembangkan kreativitas, aspek-aspek yang perlu diperhatikan antara lain (Suryadi, 2014, hal. 97):
1)      Aspek kemampuan kognitif, dimana anak dapat mengembangkan berpikirnya untuk berpikir divergen, yaitu kemampuan untuk memikirkan berbagai alternatif pemecahan suatu masalah.
2)      Aspek pengindraan, dimana anak dapat menemukan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau dipikirkan orang lain.
3)      Aspek kecenderungan emosi, aspek ini berkaitan dengan keuletan, kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ketidakpastian dan berbagai masalah perkembangan kreativitas pada diri anak.
Dedi Supriadi mengemukakan sejumlah bantuan yang dapat digunakan untuk membimbing perkembangan anak-anak kreatif, yaitu (Asrori, 2011, hal. 58-59):
1)      Menciptakan rasa aman kepada anak untuk mengekspresikan kreativitasnya.
2)      Mengakui dan menghargai gagasan-gagasan anak.
3)      Menjadi pendorong bagi anak untuk mengkomunikasikan dan mewujudkan gagasan-gagasannya.
4)      Membantu anak memahami divergensinya dalam berpikir dan bersikap, dan bukan malah menghukumnya.
5)      Memberikan peluang untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasannya.
6)      Memberikan informasi mengenai peluang-peluang yang tersedia.
Gibs berdasarkan berbagai penelitiannya menyimpulkan bahwa kreativitas dapat dikembangkan dengan memberi kepercayaan, komunikasi yang bebas, pengarahan diri, dan pengawasan yang tidak terlalu ketat. Hasil penelitian tersebut dapat diterapkan atau ditransfer dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini akan lebih kreatif jika (Mulayasa, 2005, hal. 164-165):
1)      Dikembangkan rasa percaya diri pada peserta didik, dan tidak ada perasaan takut.
2)      Diberi kesempatan untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas dan terarah.
3)      Dilibatkan dalam menentukan tujuan dan evaluasi belajar.
4)      Diberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter.
5)      Dilibatkan secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan.



DAFTAR PUSTAKA

Adisusilo, S. (2013). Nilai Karakter Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Teori Pembelajaran Afektif. Jakarta: Rajawali Pers Cetakan II.
Asmani, J. M. (2014). 7 Tips Aplikasi PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Yogyakarta: DIVA Press.
Asrori, M. A. (2011). Psikologi remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Budiningsih, A. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: CV Pustaka Setia.
Buzan. (2004). The Power of Creative Intellegence Sepuluh Cara Jadi Orang yang Jenius Kreatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Filsaime. (2008). Menguak Rahasia Berpikir Kritis dan Kreatif. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Hermawati, V. (2007, September 21). Teori Konstruktivisme. Retrieved from www.teachersrock.net/ciri_konst.htm
Joyce, B. (2009). Models Of Teaching. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kemendiknas, P. B. (2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Khodijah, N. (2006). Psikologi Belajar. Palembang: IAIN Raden Fatah Press.
Mulayasa, E. (2005). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sabri, A. (2005). Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching. Jakarta: Quantum Teaching.
Suparno, P. (2001). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Suparno, P. (2001). Pendekatan Konstruktivisme. Jakarta: Erlangga.
Suryadi. (2014). Kiat Jitu dalam Mendidik: Apa, Mengapa, dan Bagaimana Dikembangkan Pada Peserta Didik. Jurnal Pendidikan, http://math.sps.upi.edu/?p=58.

Trianto. (2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka Belajar.

No comments

Contoh LK 3.1 Best Practice PPG Daljab Kategori 2 tahun 2022

Silahkan klik link dibawah ini untuk download:   Contoh LK 3.1 Best Practice

Powered by Blogger.